MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-47

Padelford juga meninjau ulang literatur dalam bidang tersebut, tentang penelitian yang dilakukannya sendiri, yang berhubungan dengan hipotesis kevakuman eksistensial. Ia melaporkan tentang pertanyaan yang ditujukan kepada pelajar mengapa mereka tertarik dan terlibat dengan obat-obatan. Di antara jawaban yang sering didaftar adalah “hasrat untuk menemukan makna dalam hidup”. Suatu penelitian epidemiologi yang dilakukan untuk National Commision on […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-45

Aspek pertama dari triad, depresi, sering berujung pada upaya bunuh diri.Terdapat bukti yang banyak bahwa upaya bunuh diri khususnya di kalangan pemuda mengalami peningkatan.”Bunuh diri, yang pernah menduduki peringkat dua pulu satu dalam daftar penyebab kematian, kini berada di peringkat kesepuluh dan di beberapa negara bagian menjadi peringkat ke enam. Setiap orang yang akhirnya bunuh […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-44

Sudah lama para psikolog mengetahui permainan itu sendiri dengan istilah psikologi dalam. Psikologi dalam berikutnya dilihat sebagai kesadaran dinamis polos yang mendasari perilaku manusia. Mungkin inilah ilustrasi terbaik yang disebut oleh Joseph Wilder sebagai joke singkat psikiater yang pernah didengarnya: “Apakah Anda seorang psikater?” “Mengapa Anda bertanya?” “Anda pasti seorang psikiater.” Dengan berupaya membuka topeng orang yang memberikan […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-43

Berikut adalah ilustrasi lainnya mengenai reduksionisme. Seorang psikoanalis Freudian terkenal mendedikasikan dua volume tulisan kepada Goethe. “Di halaman 1538,” tinjauan buku berbunyi, “penulis menggambarkan kepada kita seorang jenius dengan ciri gangguan manic-depressive, paranoid, epileptoid, homoseksualitas, incest, voyeurisme, eksibisionisme, fetisisme, impotensi, narsisme, neurosis obsessivecompulsive, histeria, megalomania, dan sebagainya. Dia tampaknya fokus hampir secara eksklusif pada insting  daya dinamis […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-42

Secara rata-rata, kenyataan bahwa kevakuman eksistensial pada pelajar di Amerika lebih nyata dibanding pelajar di Eropa. Menurut pandangan saya, hal itu terjadi karena paparan rata-rata pelajar Amerika pada indoktrinasi semacam reduksionisme. Untuk mengutip sebuah contoh, sebuah buku mendefinisikan manusia sebagai “tidak lebih dari mekanisme biokimia kompleks yang didukung oleh sistem pembakaran yang memberikan energi komputer […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-41

Apabila saya diminta untuk menjelaskan secara singkat, saya akan mengatakan bahwa kevakuman eksistensial dihasilkan dari kondisi-kondisi berikut. Tidak seperti hewan, untuk melakukan sesuatu, manusia tidak harus berdasarkan naluri. Secara kontras juga dengan manusia zaman dahulu, ia tidak lagi didikte oleh tradisi dan nilai untuk melakukan sesuatu. Sekarang, mengetahui apa yang harus dilakukan dan yang tidak […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-39

Apa yang berada di balik penekanan terhadap pencapaian seks dan kekuasaan, apa yang ada di balik kepuasan terhadap seks dan kebahagiaan, adalah frustrasi kehendak terhadap makna. Libido seksual hanya hyperthrophi dalam kekosongan eksistensial. Hasilnya adalah inflasi seks, dan seperti inflasi di pasar uang, inflasi diasosiasikan dengan devaluasi. Lebih khusus, seks didevaluasi akibat dehumanisasi. Seks manusiawi selalu […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-38

Kehendak terhadap kenikmatan, bagaimana pun bertentangan dengan kualitas transendensi diri realitas manusia. Ia juga mengalahkan dirinya sendiri. Kenikmatan dan kebahagiaan adalah hasil. Ia tidak dapat dikejar melainkan sesuatu yang terjadi. Pengejaran terhadap kebahagiaan akan merintangi kebahagiaan itu sendiri. Semakin seseorang membuat kebahagiaan sebagai tujuan semakin ia kehilangan tujuan. Hal ini paling mencurigakan dalam kasus neurosis seksual […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-37

Di satu sisi, kehendak terhadap makna bukan hanya sebagai perwujudan kemanusiaan manusia, tetapi juga —seperti yang disebutkan oleh Theodore A. Kotchen — adalah kriteria yang layak bagi kesehatan mental. Hipotesis ini didukung oleh James C. Crumbaugh, Sister Mary Raphael, dan Raymond R Sharader, yang mengukur kehendak terhadap makna dan menambahkan skor tertinggi di antara populasi bisnis dan […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-35

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat memahami perbedaan itu. Bila kita tidak memahami hal itu, kita tidak akan tertawa membaca komik yang menunjukkan keberatan Snoopy tentang penderitaannya akibat perasaan tidak tidak bermakna dan hampa, hingga Charlie Brown datang dengan semangkuk penuh makanan anjing, dan Snoopy berseru, “Ah. Makna”. Apa yang membuat kita tertawa persis pada kebingungan […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-33

Pertimbangkanlah sebuah mata! Mata juga adalah transendensi diri dalam satu hal. Ketika ia mempersepsi sesuatu tentang dirinya sendiri, fungsinya untuk mempersepsi dunia visual sekitarnya menjadi memburuk. Ketika ia menderita katarak, ia akan menganggap bahwa katarak itu sendiri sebagai awan. Ketika ia menderita glaukoma, ia akan mempersepsi cahaya sebagai pelangi. Mata tidak melihat apa pun dari […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-31

Penelitian Baru Dalam Logoterapi  Dalam kata pengantar edisi pertama berbahasa Inggris The Unconsciuous God (1975), saya berjanji untuk memeriksa beberapa prinsip, yang sejak publikasi pertama di Jerman tahun 1947, telah lebih awal dielaborasi. Dapat dimaklumi, saya mesti berkonsentrasi pada hati  nurani sebagai salah satu fenomena paling penting pada pusat prinsip ini. Sesuai dengan teori logoterapi, hati […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-30

Membicarakan martabat—apakah ia martabat seseorang atau ilmu pengetahuan—kita dapat mendefinisikan sebagai nilai sesuatu dalam dirinya sendiri, yang berlawanan dengan nilai ‘bagi saya‘. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa siapa pun yang membuat psikoterapi menjadi ancilla theologia, pelayan bagi teologi, tidak hanya  merampok martabat pengetahuan yang otonom, namun juga mengabaikan nilai potensial yang mungkin didapat untuk agama, […]

MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-28

Kita biasanya mengatakan bahwa logoterapi tidak bertujuan untuk menggantikan psikoterapi melainkan melengkapinya. Demikian juga kita mengatakan bahwa tugas-tugas medis tidak menggantikan tugas-tugas pastoral. Hal itu tidak berarti melenyapkan—bila memungkinkan seorang psikiater bisa mengambil alih tugas-tugas pastoral. Kasus berikut ini merupakan contoh bagaimana hal itu bisa terjadi: Seorang wanita tua datang ke psikiater untuk berkonsultasi tentang […]

MAN;S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-25

Terdapat juga bukti-bukti pada wilayah sosiokultural sebab beberapa kali kita melihat dan menyaksikan bahwa religiusitas yang direpressi merosot menjadi takhayul. Pada abad ini, pemujaan terhadap akal dan megalomania teknologi merupakan  struktur yang merepresi di mana perasaan religius dikorbankan. Fakta ini menjelaskan bahwa banyak kondisi manusia saat ini yang menyerupai suatu “kompulsif neurosis universal umat manusia” […]

PHILOSOPHY TODAY: KONSEP NEGARA SEJAHTERA JM KEYNES (2)

Ada banyak cara mendefinisikan kehidupan yang baik. Pandangan para ekonom sendiri telah bergeser dari hedonisme, yang menganggap bahwa yang baik adalah keadaan mental seperti kesenangan dan kebahagiaan menuju pandangan bahwa kesejahteraan dapat diukur berdasarkan preferensi pilihan. Sejumlah ekonom terkemuka memang menganjurkan kembali ke hedonisme, tetapi mereka tetap minoritas. Tidak seperti hedonisme, kesejahteraan sebagai preferensi kepuasan menentukan bagaimana mencari […]

PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT POLITIK (2)

Stategi yang Ditolak Socrates mengambil jalan yang aneh setelah tantangan dari Glaucon dan Adeimantus. Socrates menyarankan untuk mendahulukan keadilan sebagai keutamaan bagi sebuah negara dari pada keadilan sebagai keutamaan individu dengan alasan bahwa keadilan sebuah negara jauh lebih rumit dibanding keadilan personal. Hal itu membuat Socrates mengalami kesulitan untuk mendefinisikan ciri-ciri sebuah negara yang baik. Meski […]

PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT POLITIK (1)

PLATO Republik, buku Plato yang membahas politik berpusat pada pertanyaan sederhana: “Apakah adil selalu lebih baik dari pada tidak adil? Pertanyaan di Buku Satu itu dibuat lebih eksplisit oleh Glaucon dan Adeimantus pada awal Buku Dua. Untuk menjawab pertanyaan itu, seperti biasa, Socrates mengambil jalan memutar, membuat sketsa catatan dari kota yang baik dengan alasan bahwa sebuah kota […]