PHILOSOPHY TODAY:”KEMATANGAN EMOSI”

KEMATANGAN EMOSI

Emosi yang belum matang sulit memahami bahwa ia memiliki tanggung jawab dalam kehidupan. Ia lebih suka berpikir bahwa persoalan yang dihadapi dalam kehidupan tergantung pada orang lain, tergantung pada sesuatu yang ada di luar dirinya. Emosi yang matang memahami bahwa ia memiliki kapasitas untuk lebih kreatif, lebih inovatif untuk membangun pengaruhnya terhadap keadaan, bukan menyerahkan diri terhadap pengaruh keadaan.

Emosi yang belum matang, karena ia melihat segala sesuatu perjalanan hidupnya tergantung orang lain, tidak memiliki keberanian untuk menetapkan tujuannya, menetapkan impiannya. Ia menyerahkan tujuan hidupnya kepada orang lain. “Terserah mama” atau “Terserah papa” adalah kalimat favorit yang selalu diucapkan tentang tujuan hidupnya. Membangun impian sejati, yang bukan hanya sekadar keinginan atau angan-angan membutuhkan tanggung jawab untuk mewujudkannya sebab impian sejati membutuhkan rasa percaya diri dan usaha menciptakan serta menyadari sukses-sukses kecil menuju sukses yang besar.

Emosi yang belum matang, yang menyerahkan tujuannya kepada orang lain, tidak memiliki peta perjalan hidup yang akan dijalani. Ia tidak memiliki aktivitas yang harus ia kelola dengan tanggung jawab. Mengelola aktivitas membutuhkan pemahaman tentang aktivitas mana yang penting sesuai dengan tujuan hidupnya dan aktivitas mana yang sekadar menarik namun tidak selaras dengan peta perjalanan hidupnya. 

Emosi yang belum matang tidak memiliki pengalaman berbagai, sehingga ia selalu merasa bahwa dunia ini adalah dunia yang berkekurangan. Dunia yang berkekurangan adalah dunia yang tidak ramah, dan tidak mengenal kemungkinan untuk mencapai kemenangan bersama. Dibutuhkan kematangan emosi untuk memandang dunia ini sebagai dunia yang berkelimpahan di mana setiap orang bisa mendapatkan banyak.

Emosi yang belum matang sulit untuk mendengar. Ia lebih suka berpikir bahwa orang lain tidak mau mengerti dirinya. Ia mudah menuduh orang lain tidak mengerti dirinya dari pada berusaha mengerti orang lain. Ia sering berkata.”Tidak ada yang mengerti aku”, dan akibat hasrat untuk dipahami yang egois itu ia lebih suka didengarkan dari pada mendengar orang lain. Kemampuan mendengarkan orang lain memerlukan keterbukaan dan kemauan yang tinggi untuk memahami orang lain. Untuk berhubungan  dengan orang lain, dengan istri atau suami, dengan anak-anak, dengan semua orang, kita harus belajar mendengarkan, dan hal itu membutuhkan kematangan emosi.

Emosi yang belum matang tidak mampu melihat bahwa jauh lebih banyak yang akan dihasilkan bila menyatukan energi dengan orang lain. Untuk memahami bahwa 1+1>2, dibutuhkan kematangan emosi.

Komitmen bertumbuh selaras dengan kematangan emosi. Bangunlah Emosi, dimulai dengan menyadari diri Anda!  

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .

Tinggalkan Balasan