PHILOSOPHY TODAY: “TUNDALAH KENIKMATAN SESAAT!”

TUNDALAH KENIKMATAN SESAAT!

Acapkali orang mengatakan bahwa memahami prinsip pertumbuhan secara rasional adalah perkara mudah. “Yang sulit adalah melakukannya,” demikian sering diucapkan orang. Namun, bila kita sampai menyepelekan pemahaman rasional juga tidak baik, sebab pemahaman rasional tidak berhenti hanya sekadar pemahaman secara verbal, melainkan harus melibatkan kapasitas melakukan penilaian rasional.

Benar bahwa menghayati dan menerapkan hidup berkomitmen dalam kehidupan sehari-hari bukan perkara mudah. Mempraktikkan prinsip itu agar selaras dengan tindakan membutuhkan kematangan emosi. Namun kematangan emosi juga sangat berhubungan dengan kematangan rasional. Bagaimana kita berkomitmen bila kita sendiri tidak memahami secara rasional?

Tawaran jalan pintas sangat menggoda dan terlalu berat untuk ditolak, apalagi dampak pelanggaran terhadap hukum pertumbuhan tidak serta-merta langsung dirasakan. Orang lain tidak bisa merasakan dampak langsung ketika seorang aparat melakukan korupsi, ketika seseorang menggunakan narkoba, ketika aparat menerima suap dari calon pegawai yang akan dimenangkan, ketika seorang calon legislatif atau calon kepala daerah melakukan politik uang untuk meraih kekuasaan, juga ketika seorang siswa mencontek atau membeli jawaban soal ketika ujian.

Bahkan dalam jangka pendek, semua cara-cara instan menawarkan kenikmatan. Karena tidak tampaknya dampak langsung dan adanya kenikmatan yang ditawarkan, orang cenderung memilih meloncati tahap-tahap yang sebenarnya sangat penting dalam membangun kualitas diri, demi menghemat waktu dan tenaga.

PENEGAKAN HUKUM

Pada poin ini akan tampak pentingnya fungsi penegakan hukum. Karena realitasnya manusia memiliki kecenderungan yang kuat memilih jalan pintas, perlu ada suatu instrumen yang berfungsi menekan keinginan untuk mencari jalan pintas itu, dan itu diperankan oleh penegakan hukum. 

Meski hukum bertujuan untuk menegakkan prinsip, dan berfungsi sebagai salah satu cara memberikan pemahaman rasional bahwa mencari jalan pintas itu tidak benar, namun penegakan hukum itu sendiri bukan prinsip. Ia lebih tepat sebagai jalan pintas untuk menghentikan jalan pintas. Artinya, penegakan hukum tidak memadai sebagai satu-satunya cara. Hukum adalah faktor eksternal yang mengatur perilaku manusia dan mengandaikan bahwa orang sudah memahaminya. Ketika perilaku manusia hanya diatur oleh hukum, manusia akan belajar bagaimana cara menghindarinya.

Bukti-bukti bahwa hukum berperan dalam membentuk perilaku manusia secara permanen sangat sumir. Begitu banyaknya koruptor yang dihukum, begitu banyaknya bandar narkoba yang dihukum mati, begitu banyaknya teroris yang dihukum mati, apa yang dihasilkan? Semua penyimpangan itu masih saja terjadi hingga saat ini.

Cara paling efektif mengatur perilaku manusia adalah membangun kecerdasan rasional (etika), membangun kecerdasan emosional (karakter), membangun kecerdasan spritual (komitmen) agar manusia bisa memaknai kemanusiaannya, makhluk yang mampu menunda kenikmatan sesaat demi kenikmatan jangka panjang. Tundalah Kenikmatan Sesaat!

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .