PHILOSOPHY TODAY: “TELADAN”

TELADAN

Seekor induk kepiting bertanya kepada anaknya, “Mengapa Kamu berjalan miring seperti itu, Anakku? Kamu harus berjalan dengan lurus. Berlatihlah, kamu pasti bisa.” Kepiting muda menjawab, “Tunjukkan bagaimana caranya Bu, biar saya bisa mengikuti. “Induk kepiting berusaha mencoba, tapi sia-sia. Ia tidak bisa berjalan lurus. Lelah mencoba dan ternyata tidak bisa, ia menyadari betapa bodohnya dia telah berusaha mencari-cari kesalahan anaknya, sementara ia sendiri telah melakukannya sepanjang hidupnya.***

Susah-susah gampang, demikian kalimat yang lebih tepat untuk menggambarkan sulitnya membangun komitmen. Sulit, bila kita hanya mengandalkan keterampilan verbal dan mengedepankan perintah. Namun akan terasa gampang bila kita mau bersabar untuk memahami orang lain.

Mengapa mengajak orang berkomitmen dengan mengandalkan perintah demikian sulit? Orang akan mengikuti apa yang kita lakukan. Kata-kata kita hanya bisa berpengaruh ketika apa yang kita ucapkan sejalan dengan apa yang kita lakukan. Ketika nasehat kita tidak sejalan dengan kelakuan kita, kata-kata tidak memiliki kekuatan. Ringkasnya kita harus menjadi teladan.

Berbicara tentang keteladanan, saya teringat ucapan favorit ayah saya (alm), ‘panjang jalan melalui perintah, pendek jalan melalui teladan’.

Persoalannya, dalam kehidupan, kita cenderung seperti induk kepiting yang sangat mudah melihat kesalahan pada orang lain lalu memberikan nasehat-nasehat tingkat tinggi sementara kita sendiri melakukan kesalahan yang sama. Tak sedikit orang yang karena ucapan-ucapannya seharusnya menjadi panutan nyatanya berkelakuan jahat. Tak sedikit pula orang yang dikenal sebagai motivator tetapi bahkan memotivasi diri pun tidak bisa.

“Saya sudah mengatakan agar seperti ini, agar seperti itu, tapi ia tetap saja tidak mau berubah,” ujar seorang ibu menceritakan apa yang sudah dilakukannya kepada anaknya yang malas belajar.

Pernyataan itu sangat sering terdengar dari orang tua yang menghadapi anak bermasalah. Kita kurang menyadari bahwa kata-kata tidaklah memiliki kekuatan tanpa keteladanan.

Memang tidak cukup hanya memberi teladan. Keteladanan berguna bagi orang yang sudah sadar. Bagi orang yang belum sadar kita terlebih dulu harus menyadarkannya. Bukan juga dengan kata-kata tetapi melalui perhatian tulus.

Setiap orang memiliki potensi unik, yang bisa digali dengan sabar dan penuh perhatian dan ketulusan untuk memahami. Ketika kita fokus pada kesalahan atau kelemahan orang lain, kita kehilangan potensi unik dari mereka. Ketika kita berkomitmen untuk memahami, orang akan menemukan dirinya yang unik, dirinya yang berharga, dirinya yang berpotensi.***   

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan