PHILOSOPHY TODAY: PRINSIP KEPERCAYAAN

PRINSIP KEPERCAYAAN

Stephen Covey menceritakan bagaimana sebagai seorang ayah ia pernah melanggar prinsip dalam membangun kepercayaan.

“Suatu hari saya pulang untuk merayakan pesta ulang tahun putri saya yang ketiga. Saya melihat ia duduk di sudut ruang depan, menggenggam semua hadiahnya, tidak bersedia membiarkan anak-anak lain bermain dengan hadiah yang diperolehnya. Hal pertama yang saya lihat adalah para orang tua dalam ruangan menyaksikan perangai egois anak saya. Tentu saya malu, lebih malu lagi karena waktu itu saya mengajar mata kuliah hubungan antar manusia. Saya tahu, atau paling tidak merasakan apa yang diharapkan para orang tua itu.

Suasana dalam ruangan benar-benar tidak menyenangkan. Anak-anak berkerumun mengelilingi putri kecil saya dengan tangan terjulur dengan hadiah-hadiah yang baru saja mereka berikan, dan putri saya tetap menolak. Dalam hati saya berkata, “Saya harus mengajar putri saya untuk berbagi. Arti berbagi merupakan salah satu hal paling mendasar yang kami yakini.”

Saya lalu mencoba meminta secara lembut. “Sayang, maukah kamu meminjamkan mainan yang baru saja mereka berikan kepadamu?”

“Tidak,” jawabnya datar.

Cara kedua adalah dengan sedikit penalaran. “Sayang, kalau kamu mau meminjamkan mainanmu, maka kalau kamu pergi ke rumah mereka, mereka pun mau meminjamkan mainannya pada mu.”

“Tidak,” jawabnya kembali.

Saya menjadi lebih malu karena ternyata saya tidak punya pengaruh.

Cara berikutnya adalah ‘suap’.

“Sayang, kalau kamu mau memberikan mainanmu, ayah punya kejutan istimewa, ayah akan berikan kamu permen karet.

“Aku tidak mau permen karet,” bentaknya.

Saya mulai jengkel, dan mengandalkan pendekatan ancaman.

“Kalau kamu tidak mau meminjamkan mainanmu, kamu akan dihukum!”

“Aku tidak peduli. Ini semua mainanku, Aku tidak perlu meminjamkannya.”

Akhirnya, saya mengandalkan kekuatan, cara mendidik dengan keputusasaan. Saya mengambil beberapa mainan dan memberikannya kepada anak-anak lain. “Ini anak-anak, mainlah!”

Kisah ini menggambarkan betapa sulitnya membangun kepercayaan dan betapa mudahnya menggunakan otoritas. Membangun kepercayaan membutuhkan kesabaran yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kuat secara mental. Ironisnya, semua hubungan emosional yang baik hanya dapat tumbuh di atas tanah kepercayaan.Bangunlah Kepercayaan!

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan