PHILOSOPHY TODAY: “OTAK DAN EMOSI”

OTAK DAN EMOSI

Pandangan tradisional terhadap emosi sebagai pengganggu yang berperan sentral dalam pengalaman konflik batin, mendorong pengajuan beberapa model paling terkenal struktur manusia dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Bila Plato mengemukakan tiga bagian dari jiwa, serta pendapat bahwa emosi tidak dapat diidentifikasi baik dengan nalar maupun dengan hasrat di mana kadang-kadang memihak yang satu dan kadang-kadang dengan lainnya (Plato 1997, Bk VII), Sigmund Freud juga menyukai model tiga bagian: Id, Ego dan Superego (Freud 1923), namun mereka tidak menetapkan tempat yang jelas untuk emosi.

Model tiga-bagian juga dikemukakan oleh neuroscientist Paul MacLean (1975). MacLean menyarankan ‘otak triun’ yang menjelaskan bahwa struktur otak mencerminkan pengembangan filogenetik di mana lapisan berturut-turut sebagian diganti tetapi juga sebagian direduplikasikan dari fungsi struktur sebelumnya. Tingkatan pertama adalah otak reptil yang mengontrol fungsi otonom dasar yang homolog dengan fungsi otak pada reptil. Otak mamalia, yang memiliki kesamaan dengan fungsi otak pada mamalia, bertanggung jawab untuk persoalan emosi; dan neokorteks sebagai tingkatan paling tinggi, yang berhubungan dengan intuisi.

Pembagian lebih sederhana adalah pembagian otak berdasarkan dua belahan, otak kiri dan otak kanan. Beberapa bukti mengatakan bahwa belahan kiri dikaitkan dengan kecenderungan depresi, sedangkan belahan kanan berkaitan dengan suasana ceria (Taylor 2006). Tapi tak satu pun dari karya-karya itu yang memberi pijakan pemahaman yang kuat tentang emosi.

Tidak adanya kesesuaian beragam model yang ada tentang emosi menunjukkan bahwa emosi terlalu rumit untuk disematkan ke bagian tertentu dari otak.  Kontras antara fungsi intuitif dan analitik mengingatkan pada toeri Freudian tentang pengolahan primer dan sekunder (Freud 1911). Bagi Freud, pengolahan primer adalah sesuatu yang kita butuhkan untuk hal-hal yang segera, karena hal itu didorong secara eksklusif oleh ‘prinsip kesenangan’, pencarian kepuasan instan.

Hal itu lebih digerakkan oleh fantasi daripada oleh kemampuan untuk melacak dunia luar. Dalam formulasi modern model dua belahan otak, fungsi belahan analitik merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dewasa normal. Proses intuitif kadang-kadang dianggap menjadi modular; mereka biasanya asosiatif, holistik, relatif cepat, paralel, otomatis, kognitif ringan, sangat kontekstual, dan stabil. Belahan analitik, sebaliknya, adalah berbasis aturan, dikendalikan, serial, kognitif berat, relatif lambat, dekontekstual, dan berubah-ubah.

Belahan analitik biasanya tergantung pada bahasa eksplisit atau setidaknya representasi digital. Hal ini menjelaskan mengapa komputer jauh lebih mudah diprogram untuk melakukan pekerjaan jenis itu, termasuk yang bagi kita sangat sulit, misalnya analisis hitungan kompleks. Pekerjaan menangkap bola, mengenal wajah, membaca tulisan tangan adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diprogram.***

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan