PHILOSOPHY TODAY: “MENGAPA HARUS KOMITMEN?”

MENGAPA HARUS KOMITMEN?

commitment-paulo coelhoMembaca berkali-kali buku luar biasa “The Seven Habits Of Highly Effective People” karya filsuf Organisasi dan Etika Stephen R Covey membuat saya sulit lepas dari cakrawala berpikir yang ia tawarkan. Keutuhan isi yang fundamental membuat saya hampir percaya sepenuhnya bahwa persoalan realitas adalah persoalan karakter, sangat sulit untuk memikirkan sesuatu kebenaran di luar apa yang ia tuliskan dalam buku yang dibaca oleh seluruh dunia, lintas bangsa dan lintas agama itu.

Untungnya, pengalaman sehari-hari dalam mendidik, mengamati, dan berinteraksi dengan banyak siswa dengan beragam latar belakang serta kegiatan dalam berbagai organisasi memperkaya pemahaman saya tentang pertumbuhan kualitas menuju manusia yang utuh. Pengalaman itu mendorong saya menulis buku “Lingkaran sukses” yang berisi tentang membangun sukses-sukses kecil menuju terbentuknya sukses yang besar dengan membangun sukses, impian, dan percaya diri.

Menulis buku adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun, menulis buku tentang karakter yang bukan sekadar menjiplak kata-kata yang ada pada buku lain bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kepiawaian untuk merefleksikan serta menilai pengalaman dan merangkainya dalam kalimat yang tepat. Kapasitas untuk menilai pengalaman menjadi kesulitan tersendiri. Bila tidak dilandasi oleh pemahaman yang memadai, bisa-bisa terjebak pada subjektivitas.

Dalam proyek penilaian pengalaman itulah saya harus berkali-kali membaca buku The Seven Habits dan mendialogkannya dengan pengalaman personal saya.

Namun tetap saja masih tersisa pertanyaan dalam benak saya. Pertanyaannya adalah mengapa banyak orang yang sudah hattam dengan buku The Seven Habits namun karakternya tetap tidak beranjak, tetap buruk. Karakter bahkan cenderung dipahami menjadi sekadar atribut bagi sopan santun, moral, dan kepribadian. Ringkasnya menjadi verbalitas yang tidak berbuah tindakan. Sementara, perubahan hanya dapat diharapkan bila ada tindakan.

Bila benar demikian adanya, mestinya ada sesuatu yang belum ada atau yang belum terungkap lebih jelas dalam buku The Seven Habits.

Bergelut dengan persoalan itu, tiba-tiba saya mengingat kembali kata itu, komitmen. Istilah Komitmen diperkenalkan oleh Amartya Sen, seorang filsuf ekonomi yang mengkritisi teori ekonomi kontemporer yang menurutnya cenderung mengedepankan kepentingan diri sendiri (selfishness). 

Karena setiap manusia adalah makhluk ekonomi, perilaku mengedepankan kepentingan sendiri ini bertumbuh subur merambah semua segi kehidupan. Jadilah manusia tanpa komitmen.

Komitmen adalah pertemuan antara dimensi emosional dengan ruang dimensi spritual manusia, yang didasarkan pada kemauan mempertahankan integritas dengan melakukan tindakan yang benar. Dimesi emosional dalam bentuk empati, kemampuan emosional merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dengan sudut pandang orang itu sendiri. Dimensi spritualnya adalah kapasitas untuk bertindak sebagai mahkluk sosial yang didasari oleh refleksi terhadap makna diri.

Tanpa komitmen, perusahaan perkebunan besar akan melakukan pembakaran hutan untuk memperluas lahannya tanpa sekalipun tindakan itu mungkin akan menghadirkan penderitaan yang akan dialami banyak orang, misalnya timbulnya kabut asap. Tanpa komitmen, penguasa akan berperilaku korup demi kepentingan sendiri sekalipun itu akan memiskinkan banyak orang. Tanpa komitmen, pasangan suami istri akan mencari menang sendiri. Tanpa komitmen, penjaga lapas akan ikut terseret dalam perdagangan narkoba. Tanpa komitmen, siswa menghalalkan menyontek, alih-alih mempersiapkan diri agar memiliki makna dalam kehidupan dengan belajar tekun.***

Posted in Uncategorized.

Tinggalkan Balasan