PHILOSOPHY TODAY: MENDENGAR UNTUK MEMAHAMI

Mendengar Untuk Memahami

Pernahkah Anda melihat orang bertengkar dalam suatu acara debat di televisi akibat mereka saling memotong pembicaraan? Itu menunjukkan bahwa setiap manusia tidak menyukai pembicaraannya dipotong oleh orang lain. Hasrat manusia untuk didengarkan tidak berhenti hanya sekadar untuk didengar melainkan juga menjadi simbol harga diri.

Inti dari komunikasi yang efektif adalah memahami orang lain. Memahami orang lain berarti mendengarkan mereka, bukan mendengar agar bisa menjawab atau mendebat apa yang diucapkannya, melainkan mendengar dengan tujuan yang benar-benar untuk memahami sudut pandang orang itu.

Dalam komunikasi sehari-hari kita mempraktikkan beberapa tingkatan mendengar. Tingkatan paling rendah adalah mendengar tetapi mengabaikan. Kebanyakan cara mendengar seperti ini dipraktikkan pada pertemuan-pertemuan umum yang dianggap tidak penting. Kita berada di suatu tempat dan mendengar orang lain berbicara, namun pikiran kita melayang ke tempat lain. Tingkatan kedua adalah mendengar secara selektif. Tingkatan berikutnya adalah mendengar secara atentif, mendengar dengan penuh perhatian dan fokus pada kalimat-kalimat pembicara, namun tujuan utamanya adalah sekadar memahami secara verbal apa yang diucapkan oleh orang lain. Mendengar dengan tujuan memahami orang lain dari sudut pandang orang itu sendiri daan berkomitmen membantu orang lain adalah tingkat tertinggi dari mendengar.

Teori komunikasi mengatakan bahwa hanya sekitar 10 persen dari komunikasi kita diwakili oleh kata-kata, 30 persen oleh intonasi kita, dan 60 persen sebetulnya diwakili oleh bahasa tubuh kita. Itu sebabnya, mendengar orang lain dengan hanya berfokus pada apa yang ia ucapkan akan menghasilkan pemahaman yang sangat minim terhadap orang lain. Sebagian besar pemahaman justru bukan dihasilkan oleh indera pendengar, melainkan melibatkan semua indera dan perasaan, ketulusan untuk membantu orang lain, serta keberanian menghadapi perbedaan sudut pandang.

Dibutuhkan kekuatan karakter untuk menjadi pendengar yang empatik, namun imbalannya adalahterbukanya peluang untuk saling terbuka, tujuan dari komunikasi yang efektif . Karakter Anda terus menerus memancar dari dalam. Orang lain akan menilai Anda berdasarkan karakter Anda, bukan berdasarkan apa yang Anda katakan atau yang orang lain katakan tentang Anda.

Sebesar apapun kebutuhan saya untuk bekerja sama dengan Anda, saya tidak akan bersedia membuka diri bila saya tidak merasa nyaman dengan Anda, terutama bila saya menilai keterampilan personal Anda tidak selaras dengan keterampilan sosial Anda. Bila saya meragukan integritas Anda, saya tidak akan mengatakan tentang diri saya yang sebenarnya karena saya berpikir jangan-jangan Anda memanfaatkan saya.

Bila orang lain tidak mau terbuka terhadap Anda, bagaimana Anda bisa menggerakkan orang lain? Apa yang Anda katakan ketika memotivasi orang lain mungkin baik, namun sepanjang Anda tidak memahami persoalan   yang sebenarnya, ia tidak berdaya guna.

Mendengarlah dengan telinga dan hati Anda!

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .

Tinggalkan Balasan