PHILOSOPHY TODAY: MENDENGAR DENGAN KOMITMEN

Mendengar Dengan Komitmen

“Pusing, ah..” pengalaman dan pengamatan saya yang menghabiskan waktu dengan urusan mendidik, ucapan itu menjadi ucapan favorit siswa saat ini. Baru belajar sedikit “Pusing, ah..”. Belum lagi kalau pelajaran dianggap makin rumit, ucapan itu semakin sering terdengar. Mendengar ucapan-ucapan seperti itu membuat kita sangat mudah dihinggapi rasa frustasi.

Bercampur dengan rasa frustasi, hasrat menjelajah saya terhadap persoalan-persoalan psikologis mendorong saya merefleksikan fenomena itu lebih jauh. Dalam perjalanan merefleksikan fenomena itu, awalnya saya berlabuh pada kesimpulan bahwa persoalan itu adalah persoalan degradasi mental antar generasi semata, artinya generasi sekarang memang hidup dalam suasana pendidikan yang terlalu manja sehingga tidak lagi memiliki daya juang sebesar daya juang orang-orang dulu.

Menjelajah semakin jauh, membuka cakrawala kesadaran saya bahwa ternyata kesimpulan tadi adalah kesimpulan yang amat dangkal. Petualangan yang semakin dalam ke dunia kontemplasi menguak horison pemahaman saya bahwa kesimpulan yang saya buat tadi hanya berdasarkan nalar, yang aha…ternyata bersumber dari ketidakmampuan saya mendengar, ya ketidakmampuan mendengar.

Mendengar ucapan “Pusing, ah..”, kata pusing saya maknai sekadar sebagai suatu keadaan yang menyatakan bahwa orang itu tidak berdaya. Betapa terbatasnya cara kita berpikir ketika mendengar dan berusaha memahami orang lain hanya berdasarkan apa yang diucapkannya.

Dari penjelajahan itu saya menuangkan tulisan ini, bahwa kemampuan mendengar sangat berhubungan dengan karakter. Kemampuan mendengar bertumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kualitas diri. Tahapan mendengar paling rendah adalah memaknai ucapan secara verbal. Ucapan seseorang yang mengatakan “Pusing ah,” kita maknai bahwa ia memang benar-benar pusing adalah pemaknaan yang paling rendah. Pada tahap ini, Anda hanya mendengarkan dengan indera pendengaran Anda tanpa menggunakan nalar sama sekali. Sekalipun tingkatan ini merupakan tingkatan paling rendah, setidaknya Anda sudah memberikan perhatian terhadap orang yang berbicara dengan tidak mengabaikannya.

Tahap berikutnya, Anda   mulai memasukkan nalar Anda. Mendengar dengan cara ini tetap lebih kental memahami secara verbal, namun sudah Anda mulai menafsirkan ucapan dengan kata-kata Anda sendiri. Ucapan “Pusing ah..” Anda maknai bahwa ia lemah dan tidak memiliki daya juang.

Tahap ketiga Anda mulai memasukkan emosi. Anda mulai merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dengan sudut pandangnya sendiri. Anda bisa merasakan rasa jenuhnya dan tidak akan melanjutkan belajar lagi.

Kebanyakan orang hanya mencapai tingkat ketiga dari tahapan mendengar. Pada tahap keempat, kualitas mendengar meningkat secara luar biasa. Pada tahap ini, Anda sudah menjelajah hingga kehidupan personal orang lain. Dengan memasuki dunianya, ucapan “Pusing ah..” membuat Anda memahami perasaanya dan berupaya menelusuri apa yang membuatnya menjadi seperti itu.

Mendengar secara empatik menghasilkan banyak perbedaan, namun belum mencapai tahap tertinggi dari mendengar, pendengar berkarakter, mendengar dengan komitmen.

Mendengar dengan komitmen maksudnya, mendengar dengan tujuan membantu orang lain. Setelah Anda memahami dan merasakan makna dari suatu ucapan orang lain, serta secara empatik menjelajahi latar belakang kehidupannya untuk memahami apa yang membuatnya demikian Anda berkomitmen untuk melakukan sesuatu untuk membantu orang itu, dan itu hanya dapat berdaya guna ketika Anda bisa melampaui tahap-tahap perkembangan mendengar yang lebih rendah.

Mendengar berkarakter adalah mendengar dengan niat tulus membantu orang lain. Tidak ada gunanya Anda tahu resepnya kalau Anda tidak berikan ke pasien Anda, bukan? Selamat mendengar!

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .