PHILOSOPHY TODAY: MENDENGAR DAN KEBERAGAMAN PERSEPSI

Mendengar dan Keberagaman Persepsi

Sesuatu yang bukan pilihan kita, kita lahir di lingkungan sosial yang berbeda, pendidikan dan latar belakang keluarga, serta pengalaman yang berbeda. Akibatnya, persepsi kita sangat beragam dan kita sudah sama-sama hidup sekian lama dalam paradigma kita masing-masing dan menganggapnya sebagai sebuah fakta terbantahkan.

Latar belakang yang beragam sangat mungkin menghasilkan persepsi dan paradigma yang bertolak belakang. Saya mungkin melihat dunia ini dengan kelangkaannya, Anda melihatnya serba berkelimpahan. Saya mungkin melihat dunia ini sangat ramah, orang lain melihatnya sangat kejam. Saya mungkin melihat hidup di dunia adalah kerja sama, orang lain melihatnya sebagai persaingan. Saya melihatnya setiap masalah yang saya hadapi sebagai persoalan pribadi saya, orang lain melihat masalah yang dihadapinya sebagai persoalan orang lain, dan banyak lagi perbedaan paradigma berlawanan yang mungkin muncul dalam interaksi kita dengan orang lain.

Mendengar dengan komitmen membuat kita memahami keberagaman perbedaan-perbedaan dimaksud. Mendengar dengan komitmen membuat kita bisa melihat suatu persoalan dari sudut pandang orang lain. Bukan sekadar memahaminya melainkan membuat suatu komitmen dalam diri untuk membantu orang yang didengar.

Karena tujuan mendengar dengan komitmen adalah membantu orang yang didengar, kita akan bersedia melepaskan ego dan sudut pandang kita. Bagaimana mungkin kita bisa mengobati orang lain bila kita memaksa memberikan resep yang sebetulnya untuk diri kita sendiri sementara penyakitnya  berbeda?

Mendengar dengan komitmen tidak hanya berhenti di pemahaman terhadap orang lain. Pemahaman adalah separuh dari kerja sama sinergistik. Agar kerja sama menghasilkan buah-buah pertumbuhan kualitas diri yang konsisten, orang lain juga harus dapat memahami kita.

Memahami orang lain berdasarkan  sudut pandang orang itu adalah hal sulit. Namun, lebih sulit lagi mengharapkan orang lain memahami diri kita berdasarkan sudut pandang kita. Kebanyakan orang memahami sesuatu hanya berdasarkan sudut pandangnya.

Satu-satunya jalan membangun sinergi adalah mendengar dengan komitmen, mendengar dengan kredibilitas (ethos), dengan akal (logos), dengan empati (emosi). Tampaknya ini mengandung paradoks, agar dapat dipahami orang lain, harus diawali dengan bersedia memahami orang lain. Selamat membuat komitmen!  

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , .