PHILOSOPHY TODAY: KEUTAMAAN BAGI ARISTOTELES

Pandangan etika Aristoteles terdapat dalam risalah berjudul Nicomachean etics. Berbeda dengan gurunya Plato Aristoteles tidak banyak dipengaruhi oleh keyakinan agama.

Menurut Aristoteles, yang baik adalah kebahagiaan, yang merupakan aktivitas jiwa. Jiwa terdiri dari dua bagian, jiwa irasional dan jiwa rasional. Jiwa irasional meliputi bagian vegetatif (terdapat pada semua mahkluk termasuk tumbuhan) dan bagian apetitif (hanya terdapat pada hewan). Bagian apetitif, hingga tingkat tertentu dapat menjadi rasional bila kebaikan yang dicari sejalan dengan pertimbangan nalar.

Nalar dalm filsafat Aristoteles bersifat kontemplatif sepenuhnya, dan tanpa bantuan jiwa pada bagian yang apetitif tidak akan bisa mengarah pada kegiatan praktis apa pun.

Selanjutnya Aristoteles membagi dua macam keutamaan, keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual dihasilkan dari pengajaran, keutamaan moral dihasilkan dari kebiasaan.  

Keutamaan Sebagai Jalan Tengah

Dalam hal keutamaan, Aristoteles terkenal dengan teori jalan tengah. Menurutnya, semua keutamaan adalah pertengahan antara dua kutub ekstrim dari sifat yang lain. Keberanian adalah pertengahan antara sikap pengecut dengan ugal-ugalan, kebebasan adalah pertengahan antara sikap boros dengan sikap kikir, harga diri adalah pertengahan antara kesombongan dengan rendah diri, kerendahan hati adalah sikap antara malu-malu dengan tidak tahu malu. 

Tentang keadilan, Aristoteles berpendapat bahwa keadilan adalah pembagian hak, yang tidak selalu berarti kesetaraan. 

Orang berbudi luhur menurut Aristoteles tidak selayaknya melarikan diri dari bahaya, berpangku tangan, dan menyalahkan orang lain. Keluhuran budi baginya adalah semacam mahkota bagi keutamaan, sebab keluhuran budi menyebabkan keutamaan lebih luhur. Ia juga mengatakan bahwa tidak ada keluhuran tanpa keutamaan.

Pada bagian lain, Aristoteles mengatakan bahwa seorang yang berbudi luhur harus terus-terang dalam menyatakan cinta dan benci. Baginya, seseorang yang menyembunyikan perasaan dan mengesampingkan kebenaran karena khawatir dengan pandangan orang adalah watak seorang pengecut. 

Seorang berbudi luhur akan berani berbicara sebab ia tak merasa rendah, dan ia tak segan-segan menyatakan kebenaran, kecuali saat ia berbicara dengan cara menyindir mereka yang bukan terpelajar. Ia pun tak gampang terkagum-kagum pada sesuatu apapun, karena baginya tidak ada sesuatu yang luar biasa. Ia juga tidak suka menggosip, sebab ia tak suka membicarakan dirinya sendiri atau orang lain.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .