PHILOSOPHY TODAY: JUERGEN HABERMAS

Lahir di pinggiran Düsseldorf pada tahun 1929, Habermas menyaksikan kegagalan moral dan politik Jerman di bawah Sosialisme Nasional. Pengalaman itu yang kemudian semakin menguat ketika sebagai mahasiswa pascasarjana ia tertarik dengan eksistensialisme Heidegger. Saat itulah ia membaca Pengantar Metafisika karya Heidegger, di mana Heidegger memperkenalkan sebuah referensi terhadap ‘kebenaran batin dan kebesaran’ Sosialisme Nasional (Heidegger 1959, 199).

Ketika Habermas menyebut publik sebagai penegasan dari Heidegger, ia meyakini bahwa tradisi filsafat Jerman telah gagal menghadirkan intelektual, yang terbukti dengan sumber daya yang dihasilkan tidak mampu memahami atau mengkritik Sosialisme Nasional. Pengalaman negatif hubungan antara filsafat dan politik di Jerman mendorongnya untuk mencari sumber daya konseptual dari pemikiran Anglo-Amerika, khususnya tradisi pragmatis dan demokratis. Bergerak di luar tradisi filsafat Jerman, Habermas bergabung dengan intelektual muda lainnya seperti Karl-Otto Apel.

Habermas menyelesaikan disertasinya tentang pemikiran Schelling pada tahun 1954 di Universitas Bonn. Ia mendapat perhatian publik setelah publikasi karyanya Strukturwandel der Öffentlichkeit (Structural Transformation of the Public Sphere; English ed., 1989) pada tahun 1962, karya yang rinci tentang sejarah sosial perkembangan ruang publik borjuis pada abad ke-18 di Salon hingga transformasinya lewat pengaruh media massa.

Dalam pernyataannya tentang Salon, jelas tampak minatnya pada komunikasi ideal yang kemudian menjadi dasar bagi teori moral-politiknya. Ide tentang diskusi kritis terbuka, kebebasan dari tekanan sosial dan ekonomi, di mana lawan bicara diperlakukan setara dalam pendekatan kooperatif menuju pemahaman bersama tentang hal-hal yang menjadi perhatian umum.

Sebagai ideal di pusat budaya borjuis, jenis komunikasi itu mungkin tidak pernah sepenuhnya disadari. Meskipun demikian, hal itu bukan sekadar ideologi. Ketika kelompok diskusi kecil itu tumbuh menjadi massa publik di abad ke-19, ide-ide menjadi komoditas, berasimilasi dengan ekonomi konsumsi media massa. Daripada menyerah pada gagasan rasionalitas publik, Habermas menyerukan konsep yang lebih sesuai tentang pembentukan opini publik yang memiliki makna historis, secara normatif memenuhi persyaratan menuju negara kesejahteraan sosial, secara teoritis jelas, dan secara empiris dapat diidentifikasi.

Konsep seperti itu hanya dapat membumi pada transformasi struktural ruang publik itu sendiri dan dalam dimensi perkembangannya. Kesimpulannya berisi model dua tingkat musyawarah demokratis yang kemudian dielaborasi dalam karyanya yang lebih matang tentang hukum dan demokrasi, Between Facts And Norms (1996).

Minat Habermas pada politik menariknya untuk melakukan serangkaian telaah filosofis dan analisa sosial kritis dalam  Toward a Rational Society (1970) yang menggambarkan latar belakang munculnya teori rasionalitasnya terhadap analisis kritis masyarakat kontemporer dan Theory and Practice (1973) yang merupakan renungan terhadap sejarah filsafat.

Refleksi kritis Habermas mengambil nuansa pendekatan untuk kedua sisi kerusuhan sosial yang menandai akhir tahun enam puluhan. Meskipun bersimpati dengan permintaan mahasiswa untuk partisipasi yang lebih demokratis dan berharap bahwa aktivisme mereka menyimpan potensi transformasi sosial yang positif, ia juga tidak segan-segan untuk mengkritik aspek militan, yang ia sebut bersifat menipu diri dan merusak (1970, 48).

Dalam kritiknya terhadap teknokrat-pemerintahan oleh para ilmuwan dan birokrat, ia mengandalkan kerangka filosofis yang mengantisipasi kategori dalam pemikirannya selanjutnya, minus filsafat bahasa dalam karyanya di tahun 1970-an. Secara khusus, Habermas dengan tajam membedakan dua mode tindakan, ‘kerja’ dan ‘interaksi’ yang berhubungan dengan kepentingan abadi spesies manusia.

Kerja adalah tindakan berdasarkan pilihan rasional cara yang efisien, yaitu, bentuk tindakan instrumental dan strategis, sedangkan interaksi mengacu pada bentuk tindakan komunikatif di mana aktor mengkoordinasikan perilaku mereka atas dasar norma konsensual.

Distingsi Habermas secara dengan techne dan praxis khas Aristotelian adalah kritik khas Habermas atas ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ideologi: dengan mereduksi pertanyaan praktis tentang kehidupan yang baik ke persoalan teknis untuk ahli, elit kontemporer menghilangkan kebutuhan publik, diskusi nilai-nilai demokratis, hingga depolitisasi populasi. Legitimasi minat manusia dalam kontrol teknis alam yang berfungsi sebagai ideologi-layar yang bertopeng karakter sarat nilai dari pengambilan keputusan pemerintah dalam melayani kelanggengan kapitalis.

Tidak seperti Herbert Marcuse, yang dianggap memiliki minat khusus untuk masyarakat kapitalis, Habermas menegaskan kontrol teknis alam sebagai minat universal. Sementara itu, Horkheimer dan Adorno dalam Dialectic of Enlightenment, berpendapat bahwa kepentingan teknis tidak membutuhkan dominasi sosial.

Habermas mempertahankan pandangang filosofisnya yang lebih lengkap dalam Knowledge and Human Interests, karya yang menampilkan pendekatan pertamanya untuk menghadirkan kerangka sistematik teori kritis interdisiplin. Untuk membangun teori kritis yang dapat diterima, Habermas menghadirkan metodologi kritis yang berbeda dari filsafat dominan positivisme sains dan sejarawan hermeneutik. Ia mengembangkan teori Knowledge-Constitutive Interests yang sangat berkaitan dengan The Natural History of The Human Species dan juga The Imperatives of The Socio-Cultural Form of Life.***

Tiopan Parasian LG

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .