PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL STOISISME

STOICISME

Filsuf Zeno dikenal sebagai pendiri stoisisme, aliran yang kira-kira sezaman dengan epikurianisme. Beberapa penerusnya yang terkenal adalah Seneca, Marcus Aurelius, dan Epictetus. Zeno adalah orang Phoenicia, lahir di Citium pada abad ke-4. Sebagaimana Epikurus, Zeno juga tidak menyukai ilmu pengetahuan selain yang bermanfaat untuk mendukung doktrin-doktrinnya. Stoisisme menganggap Sokrates sebagai nabi, namun tidak menyukai Plato, terutama ajarannya tentang imortalitas.

Zeno penganut determinisme, ia meyakini bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan melainkan sudah ditetapkan secara ketat oleh hukum alam. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah pernah terjadi sebelumnya, dan akan terjadi lagi secara berulang-ulang (Tampaknya doktrin ini sangat memengaruhi Nitzsche).

Menurut Stoicisme, jalannya alam telah ditetapkan sejak awal oleh Sang Pencipta sekaligus Penyelenggara. Hingga ke hal yang paling kecil Ia telah merencanakannya untuk tujuan-tujuan tertentu pula. Segala sesuatu yang ada selalu berkaitan dengan manusia. 

Dalam kehidupan, keutamaan adalah satu-satunya kebaikan. Kesehatan, kebahagiaan, dan kekayaan tidak berharga. Keutamaan yang terdapat dalam kehendak membuat kebaikan dan kejahatan hanya tergantung pada dirinya sendiri. Manusia bisa saja miskin, namun ia tetap bisa bersikap utama. Manusia bisa saja dijebloskan ke penjara oleh penguasa, namun ia masih tetap bisa menyelaraskan hidup sesuai prinsip (hukum alam) dengan bersikap utama. Bahkan boleh saja penguasa menghukum mati dengan keji, namun seperti Socrates seseorang bisa menerima hukuman secara terhormat.

Keutamaan yang merupakan satu-satunya kebaikan sepenuhnya terdapat dalam diri individu. Setiap orang memiliki kebebasan penuh, asalkan ia melepaskan dirinya dari nafsu-nafsu duniawi.Hanya karena keputusan yang kelirulah nafsu-nafsu itu dapat menguasai manusia. Seorang bijaksana yang keputusan-keputusannya benar akan bisa menjadi tuan bagi nasibnya sendiri.

Konsepsi Stoicisme terkesan dingin. Semua nafsu dikecam. Seorang yang bijaksana tidak akan mendapatkan simpati ketika salah seorang anggota keluarganya meninggal. Ia menganggap bahwa kejadian apapun tidak dapat menghalanginya untuk mencapai keutamaan, sehingga tidak perlu terlalu berduka.

Kaum stoa menganggap mulia cinta universal. Immanuel Kant  yang berpandangan mirip dengan kaum Stoa mengatakan, “Engkau harus bersikap baik kepada saudaramu, bukan karena engkau menyanyangi dia, namun karena hukum moral memerintahkan demikian.*

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , .