PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL SPINOZA

Spinoza memandang waktu sebagai tidak nyata sehingga semua emosi yang berhubungan dengan suatu peristiwa masa depan dan masa lalu umpamanya penyesalan, kenangan, adalah bertentangan dengan akal. “Sejauh pikiran memahami sesuatu dengan petunjuk akal, maka pikiran sama-sama dipengaruhi oleh ide tentang sesuatu masa kini, masa lalu, dan masa depan.

Meskipun sulit dipahami, hal itulah yang menjadi inti filsafat Spinoza. Dalam etika, hal itu berarti kita harus berbuat baik dengan memikirkan sesaat saja. Dalam pikiran umum, semua yang baik akan berakhir dengan baik. Jika dunia ini semakin baik secara perlahan-lahan, kita bisa memikirkannya secara lebih baik dari pada jika dunia bertambah buruk. Kita lebih tersentuh dengan bencana yang terjadi pada saat ini dibanding bencana yang terjadi ribuan tahun sebelumnya. Menurut Spinoza, hal itu irasional. Manusia bijak berusaha melihat dunia sebagaimana Tuhan melihatnya.

Determinisme Spinoza menyediakan jawaban tentang masa depan sebagai berikut: “Hanya kebodohanlah yang membuat kita  berpikiran bahwa kita dapat mengubah masa depan; apa yang akan terjadi, terjadilah, dan masa depan sama dengan masa lalu tidak bisa diubah. Hal itu membuat penyesalan, kekhawatiran, dan harapan sama-sama dikutuk.

Pandangan Spinoza yang pasti akan bertentangan dengan pandangan manajerial masa kini ditujukan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman kekhawatiran. “Seorang  manusia bebas tidak akan memikirkan kematian; dan kearifan adalah meditasi, bukan tentang kematian melainkan tentang kehidupan,” ujarnya.

Dalam bagian berikutnya ia mengatakan bahwa apa pun yang menimpa diri kita berasal dari diri kita semuanya adalah baik dan hanya yang berasal dari luar diri kitalah yang buruk. “Karena semua yang disebabkan manusia itu baik, maka kejahatan tidak dapat menimpa manusia kecuali karena sebab-sebab dari luar dirinya.” Kata Spinoza.

Jelasnya, tidak ada hal buruk yang menimpa alam semesta ini secara keseluruhan karena alam semesta tidak tunduk pada sebab-sebab eksternal. Kita adalah bagian dari alam semesta dan kita harus mengikuti aturannya.

Spinoza secara konsisten mempraktikkan ajarannya itu hingga akhir hayatnya.Ia tidak hanya mempercayai secara penuh sistem filsafatnya, tetapi juga mempraktikkan sepenuhnya. Dalam berdebat misalnya, ia selalu santun dan mengutamakan akal, jauh dari kebiasaan mencela lawan debatnya, namun berusaha meyakinkan dengan argumen yang kuat.*

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .