PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL ROUSSEAU

Penilaian terhadap filsuf kelahiran Jenewa Jean Jaques Rousseau (1712-1778) terutama berpusat pada konsep penekanannya pada hati nurani.

Rousseau diceritakan sudah membaca karya Plutarch, Lives, sejak ia berusia tujuh tahun, yang pada saatnya membentuk dan memengaruhi pemikirannya. Ia meraih ketenarannya  melalui esainya dengan tema: Apakah seni dan ilmu pengetahuan memberi manfaat bagi manusia? yang dijawabnya dengan kata tidak. Dalam esainya ia menolak sains, seni, dan sartera yang ia katakan sebagai musuh paling nyata bagi moral.

Argumen yang dikemukakan terhadap penolakannya itu adalah karena sains, seni, dan sastera menciptakan bermacam keinginan.

Keunikan karakter Rousseau yang unik dapat dinilai misalnya dari keputusannya untuk menjual arlojinya yang ia beli setelah mendapat hadiah atas terpilihnya karyanya sebagai esai terbaik, “Saya tidak perlu lagi mengetahui waktu.” Ujarnya. Di puncak ketenarannya Rousseau malah menempuh jalan yang sesuai dengan prinsipnya, menjalani hidup sederhana.

Esai kedua Rousseau, Discourse on Inequality berusaha menguraikan argumen-argumen yang sudah diajukan pada esai pertama. Ia menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, dan hanya karena institusilah ia menjadi jahat. Pendapatnya tentang sifat alami manusia ini merupakan ciri khas pemikir zaman  Romantik yang mendasarkan argumen-argumennya dengan mendeduksikan sifat alami manusia kemudian menyesuaikan teorinya selaras dengan konsep manusia alaminya.

Rousseau mengkritik revolusi peradaban yang menurutnya menjadikan Benua Eropa menjadi benua yang paling tidak bahagia.Menurutnya, yang perlu dilakukan untuk menanggulangi kejahatan adalah melepaskan peradaban. karena manusia pada dasarnya baik, dan manusia paling brutal pun mau berdamai dengan seluruh alam dan bersahabat dengan sesama makhluk.

Rousseau mengirimkan esai kedua itu kepada Voltaire, yang ditanggapi dengan kalimat berikut: “Membaca buku Anda, orang ingin kembali ke masa kecil di mana ia berjalan merangkak. Namun setelah saya tidak lagi terbiasa dengan hal itu setelah lebih dari enam puluh tahun, saya menjadi merasa tidak bahagia karena saya mustahil melakukan itu. Saya juga tidak bisa memulai mencari kebiadaban di Kanada, karena penyakit yang menyerang saya membuat saya perlu menjalani pembeedahan ala Eropa. Tindakan kitalah yang membuat orang-orang  biadab sejahat kita.”

 

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .

Tinggalkan Balasan