PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL RENE DESCARTES

Rene Descartes (1596=1650) memang tersohor  sebagai tokoh utama filsafat positivisme sekaligus pendiri filsafat modern berkat filsafat pengetahuannya ‘Cogito ergo sum‘ (Saya berpikir maka saya ada). Menurutnya, aku adalah sesuatu yang berpikir, sebuah zat yang seluruh sifat atau esensinya berupa pikiran.Karenanya, jiwa seluruhnya berbeda dari tubuh dan lebih mudah mengetahui dari pada tubuh, sehingga seolah-olah tidak ada tubuh.Pada tahun 1612 ia pergi ke Paris, namun kehidupan sosial di sana membosankannya. Lalu ia pindah ke suatu daerah terpencil di Faubourg untuk menekuni Geometri.

Dia menggunakan metode analitik untuk memecahkan masalah dan mengamati konsekuensi-konsekuensi pengandaiannya. Dia juga menggunakan Aljabar pada Geometri.

Sesungguhnya, Descartes tidak menempati ruang yang luas dalam filsafat moral. Bukunya Discourse and Method dan Meditation jarang dihubungkan dengan etika. Namun demikian, dalam bukunya, ia mengatakan bahwa tujuan utama dari filsafat adalah untuk menumbuhkan kemampuan seseorang melakukan penilaian tentang yang baik dan yang buruk. Descartes menekankan pada pentingnya manfaat praktis dari kebijaksanaan sehingga dicapainya suatu pertimbangan dengan meningkatkan cahaya alami akal.

Descartes mengatakan tujuan praktis filsafat adalah merealisasikan hidup bahagia: suatu keadana di mana kita menikmati keberadaan terbaik yang bisa dicapai manusia. Descartes mencirikan kehidupan ini dalam hal jenis kepuasan mental, atau ketenangan, yang dialami oleh orang dengan pikiran yang tertata dengan baik. Hal itu adalah pengaruh penulis Stoic dan Epicurean.

Sesuai dengan tema sentral etika Helenistik, Descartes mengibaratkan filsafat sebagai bentuk terapi yang dapat mengobati penyakit pikiran, sebagai obat menyembuhkan penyakit dari tubuh. Saat ia menulis di salah satu catatan pengantar paling awal, “Saya menggunakan istilah ‘wakil’ untuk merujuk pada penyakit pikiran, yang tidak begitu mudah untuk mengenali sebagai penyakit tubuh. Ini karena kita telah sering mengalami masalah kesehatan tubuh , tetapi tidak pernah mengetahui kesehatan sejati pikiran.

Ia mengklaim filsafat dapat memimpin kita untuk menuju kesehatan pikiran. Hal ini penting bahwa Descartes dalam berfokus pada usahanya meraih kebahagiaan yang dapat direalisasikan dalam kehidupan alami manusia. Dia berhati-hati untuk mengatakan bahwa hal itu adalah dogma iman bahwa kebahagiaan tertinggi semata-mata terdapat dalam perenungan keagungan ilahi dan dapat dicapai hanya melalui rahmat ilahi.

Namun, berbeda dengan posisi Thomas Aquinas dan teologi Katolik, pertimbangan kebahagiaan supranatural (Beatitude surnaturelle) tidak memainkan peran utama dalam sistem Descartes. Sebaliknya, ia menekankan bahwa kebahagiaan sejati dicapai dalam kehidupan ini, terlepas dari cobaan yang kita hadapi.

“Salah satu tujuan utama saya adalah untuk mencintai hidup tanpa takut mati” Ujarnya.

Kunci untuk mengembangkan sikap afirmatif terhadap kehidupan adalah adanya alasan: “Filsafat yang benar mengajarkan bahwa bahkan di tengah-tengah bencana yang paling menyedihkan dan paling nyeri kita masih bisa nikmati, asalkan kita tahu bagaimana menggunakan alasan kita,” ujarnya.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , .

Tinggalkan Balasan