PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL LEIBNIZ

Bila Spinoza menyelaraskan parilakunya dengan filsafatnya secara ketat, Leibniz (1646-1716) dianggap sebagai manusia yang mempaktikkan keutamaan secara pribadi namun tidak tertarik dengan filsafat moral. Tidak ada yang tahu apakah itu terjadi akibat ayahnya seorang profesor filsafat moral. Ia seorang yang jujur, tekun, tenang, dan teliti. Dalam Matematika, ia menyamai Newton yang secara bersamaan dengan Leibniz menemukan kalkulus infinitif.

Kisah yang banyak diingat orang dari Leibniz adalah ketika salah seorang putri di istana Hannover menikah, ia memberikan hadiah pernikahan berupa tulisan berisi nasihat agar sang putri tetap mencuci baju suaminya. Menurut Leibniz, dengan melakukan hal itu berarti sang putri telah melindungi suaminya.

Melalui pengaruh Descartes, Leibniz mendasarkan filsafatnya pada konsep tentang substansi dengan perbedaan dalam hubungan antara jiwa dan materi. Descartes mengatakan bahwa ada tiga substansi: Tuhan, jiwa, dan materi. Spinoza mengatakan hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. 

Leibniz berpendapat bahwa pengembangan tidak dapat diatribusikan pada sebuah substansi dan selalu melibatkan pluralitas dan sebab itu hanya bisa terjadi pada sekumpulan substansi. Konsekuensinya ia percaya pada ketakterhinggaan materi yang ia sebut sebagai monade-monade. Setiap monade akan memiliki beberapa sifat fisik, tetapi hanya ketika dianggap abstrak, senyatanya sebuah monade adalah sebuah jiwa.

Leibniz sangat memercayai bahwa rasionalitas dan kepentingan pribadi yang tercerahkan ada dalam keutamaan. Pijakan bagi harmoni antara kepentingan dan moralitas adalah metafisika, doktrinnya tentang immortalitas jiwa dan perintah Tuhan. Namun, manusia bijak tidak mengharapkan perbuatan baik dan kesejahteraan orang lain sebagai sarana menuju kebahagiaan sendiri. Menurut  Leibniz, siapa yang berbuat baik, yang tidak didorong oleh karena ketakutan atau harapan, melainkan demi meningkatkan kualitas jiwanya, akan jauh dari ketidakadilan, sebaliknya, ia lebih adil dari yang lainnya. Siapa pun yang melakukan yang baik tanpa cinta kepada Tuhan dan mengambil kenikmatan dari tindakan itu sendiri, tidak membutuhkan dorongan dari orang lain atau perintah yang berkuasa.

Bukan cinta diri melainkan cinta kepada sesama, atau yang disebut oleh Leibniz sebagai disinterested love yang memotivasi orang melakukan perbuatan luhur.

Doktrin paling terkenal dari Leibniz adalah bahwa dunia ini adalah yang terbaik dari seluruh dunia yang mungkin secara etis mewajibkan manusia untuk memelihara dan mempertahankan kebaikan itu dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik .* 

Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan