PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL LEIBNIZ

Karakteristik utama filsafat Leibniz adalah doktrin tentang banyaknya dunia yang mungkin. Sebuah dunia adalah mungkin, sepanjang tidak bertentangan dengan aturan-aturan logika. Sebelum Tuhan menciptakan dunia nyata, ia telah merenungkan semua kemungkinan dunia. Karena Tuhan baik, ia menciptakan dunia terbaik dari seluruh dunia yang mungkin dan Dia menganggap dunia yang terbaik itu dunia yang memunyai ekses kebaikan terbesar. Dia bisa saja menciptakan dunia yang tidak mengandung keburukan, namun hal itu tidak akan menjadi begitu baik seperti dunia nyata, karena sebagian kebaikan yang luar biasa, secara logis terikat dengan keburukan-keburukan tertentu.

Sebagai ilustrasi, minuman dingin akan memberikan kenikmatan luar biasa ketika Anda kehausan di siang yang terik sehingga Anda menganggap bahwa rasa haus itu penting, karena tanpa rasa haus kenikmatan akibat minuman dingin tadi tidak akan terasa.

Dalam ranah teologi, Tuhan memutuskan menganugerahkan kehendak bebas kepada manusia  meskipun Dia tahu bahwa Adam akan makan buah Khuldi, walaupun dosa akan mendapatkan hukuman. Dunia yang tercipta, meski tidak mengandung keburukan, mempunyai surplus kebaikan yang lebih besar atas keburukan dari pada dunia lain yang mungkin. Itulah argumen Leibniz untuk mengatakan bahwa dunia ini adalah yang terbaik dari dunia yang mungkin.

Secara etis, filsafat Leibniz bermasalah dalam hal empati. Nasib buruk yang menimpa seseorang dapat dianggap sebagai bentuk keadilan sebab nasib buruk itu harus ada agar kebaikan-kebaikan semakin nyata. Secara logika pun doktrin Leibniz mendapat serangan dari para pengkritiknya dengan mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia yang paling buruk di mana adanya orang-orang baik hanya untuk mendapatkan hukuman dari orang-orang jahat untuk menyempurnakan keburukan dunia dibanding bila tidak ada orang baik.

Leibniz percaya pada pentingnya logika, bukan hanya di wilayah logika itu sendiri melainkan juga sebagai dasar membangun metafisika. Dari logika, Leibniz membangun filsafatnya pada dua premis logis, yaitu hukum kontradiksi dan hukum alasan cukup. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa semua dalil analitik adalah benar. Hukum alasan cukup menyatakan bahwa semua dalil yang benar adalah analitik. Hal itu bahkan berlaku untuk apa yang kita anggap sebagai pernyataan-pernyataan empiris tentang kenyataan.* 

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan