PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL JOHN LOCKE

Jhon Locke (1632-1704) terkenal dengan karyanya Essay Concerning Human Understanding, First Letter on Toleration, Treatises on Government, dan Education. Locke sangat dipengaruhi oleh filsafat Descartes.  Tahun-tahun sebelum Revolusi Inggris 1688 dihabiskannya untuk menulis buku Essay Concerning Human Understanding yang melambungkan namanya.

Pengaruh Locke yang sangat besar terhadap politik dan pengetahuan membuatnya dianggap sebagai bapak pendiri Liberalisme politik dan tokoh utama empirisme dalam pengetahuan. Ia diuntungkan oleh kondisi politik di mana pemerintahan negaranya dikendalikan oleh orang-orang yang menganut filsafatnya.Dalam praktek maupun teori, pandangan-pandangannya diikuti oleh tokoh-tokoh politik serta filsuf yang memiliki pengaruh kuat. Pengikutnya paling ternama di Inggris adalah Berkeley dan David Hume. 

Pengaruhnya di Prancis juga sangat kuat, terutama berkat Voltaire yang menafsirkan ide-ide Inggris untuk teman-teman senegaranya dalam Lettres Philosophiques. Para pengikutnya di Prancis percaya pada kaitan antara teori pengetahuan dan teori politiknya. 

Ajarannya tentang kualitas primer dan kualitas sekunder sangat menarik. Kualitas primer didefinisikan sebagai kualitas-kualitas yang tidak terpisahkan dari tubuh dan dijumlahkan sebagai kepadatan, pengembangan, bentuk tubuh, gerakan, dan angka. Kualitas sekunder semuanya diam, misalnya warna, bau, dan bunyi. Kualitas primer menurutnya benar-benar ada dalam tubuh sementara kualitas sekunder hanya dapat diindera. Tanpa mata tidak akan ada warna, tanpa telinga tidak ada bunyi, dan tanpa hidung tidak ada bau. Dualisme kualitas primer dan kualitas sekunder mendominasi fisika hingga munculnya teori kuantum.  

Dalam soal etika, Ia seorang berkarakter praktis dan ramah. Secara teoritis ia menganggap setiap orang digerakkan oleh keinginan untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan. “Sesuatu itu baik atau buruk hanya dalam kaitannya dengan kesenangan dan kebahagiaan atau penderitaan,” ujarnya. Ia menyebutkan sesuatu yang disebut baik dapat menambah kebahagiaan atau mengurangi penderitaan.

“Apakah yang membangkitkan nafsu? Saya menjawabnya, kebahagiaan, hanya itu,” tegasnya. Kebahagiaan menurutnya adalah puncak kesenangan yang bisa kita raih. Lalu ia menghubungkannya dengan kebebasan. ” Keharusan untuk mencari kebahagiaan yang sejati adalah dasar dari seluruh kebebasan,” ujarnya. 

Dalam kutipan berikutnya, kecenderungan pada kejahatan dari pada kebaikan merupakan wujud keputusan yang salah dan pengendalian hasrat-hasrat kita adalah kemajuan yang benar dari kebebasan.***

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .

Tinggalkan Balasan