PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL IMMANUEL KANT

Filsuf Jerman Kant, Fichte dan Hegel membangun filsafat jenis baru yang bertujuan untuk mengamankan pengetahuan dan kebaikan dari doktrin-doktrin yang dianggap menyimpang pada abad ke-18. Kecondongan subjektivisme yang dimulai oleh Descartes ditarik menuju titik ekstrim baru, yang bertajuk idealisme.

Fichte dan Hegel sama-sama berperan dalam membuat doktrin politik yang masih memiliki pengaruh hingga sekarang, sedangkan Kant, meskipun membuat beberapa esay tentang politik namun tidak dianggap sebagai pemikir politik. Namun, karya Fichte dan Hegel akan sulit dipahami tanpa memahami karya Kant yang mendahului karya kedua pemikir politik itu.

Kant menekankan kritik terhadap pengetahuan sebagai sarana mencapai simpulan filosofis. Penekanan pada pikiran yang dibenturkan terhadap materi pada akhirnya berujung pada penegasan bahwa pikiranlah yang eksis.

Kant, Fichte, dan Hegel, ketiganya adalah akademisi yang memiliki pandangan moral yang ortodoks.  Di antara ketiganya, bahkan untuk semua filsuf modern, Kant (1724-1804) dianggap sebagai yang paling agung.

Kant mendapat didikan filsafat Leibniz versi Wolfian, namun terpengaruh oleh Rousseau dan Hume. Kant mengaku  bahwa  kritik Hume terhadap konsep kausalitas membangkitkannya dari tidur dogmatisnya. Bertrand Russel menambahkan bahwa kebangkitan dari tidur dogmatis Kant hanya sementara, ia kemudian menenmukan obat tidur baru yang membuatnya kembali terlelap dalam tidur dogmatis.

Kant adalah orang memiliki kebiasaan rutin yang ketat, hingga orang-orang di sekitarnya tahu persis jam berapa ia akan melintas di depan rumah mereka ketika berolah raga pagi. Jadwal yang ketat itu hanya dapat terganggu saat ia membaca karya Rousseau,Emile. Kant mengaku bahwa untuk memahami, ia harus membaca karya itu beberapa kali karena saat pertama kali membaca, ia ‘terganggu’ akibat keindahan gaya bahasa penulisan Rousseau.

Seperti lazimnya pemikir di zamannya, Kant menulis tentang keagungan dan keindahan. “Malam itu agung dan siang itu indah; laut itu agung dan darat itu indah; pria itu agung dan wanita itu indah.”

Karya terpenting Kant adalah The Critique of Pure Reason, yang berupaya membuktikan bahwa meski tak satu pun pengetahuan kita yang melampaui pengalaman, sebagian adalah apriori dan tidak disimpulkan dari pengalaman. Bagian pengetahuan yang termasuk apriori bukan hanya logika, namun juga banyak hal yang tidak bisa dimasukkan sebagai logika atau disimpulkan darinya. Kant membedakannya dalam proposisi analitik dan sintetik dan di sisi lain ia membedakan berdasarkan proposisi a priori  dan proposisi empirik.

 

 

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan