PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL EPIKURUS

Salah satu mazhab yang paling terkenal pada periode Hellenis adalah Mazhab Epikurean dengan pendirinya Epikurus. Ia diperkirakan lahir tahun 300 an SM. Ia menyatakan bahwa ia belajar filsafat sejak usia 14 tahun. Ia mendirikan sekolah di Mytilene, di Lampsacus, dan terakhir di Athena.

Epikurus adalah seorang pribadi yang memiliki kemampuan mumpuni dalam serta ketulusan yang luar biasa dalam bersahabat. Ia suka menuliskan surat yang isinya menyenangkan kepada anak-anak dari anggota komunitasnya. Perilakunya lugas dan tidak dibuat-buat sebagaimana layaknya filsuf kuno.

Sepanjang hidupnya kesehatan Epikurus tidak baik, namun ia memiliki daya tahan yang luar biasa. Tampaknya hal itu dipengaruhi oleh filsafatnya yang mengatakan bahwa manusia bisa bahagia di tengah penderitaan.

Dua surat yang pernah ia tulis menjelang akhir hidupnya membuktikan bahwa ia memang memegang teguh filsafatnya.

“Tujuh hari sebelum menulis surat ini, ketakberdayaanku menjadi sempurna dan aku menanggung rasa sakit yang mestinya akan mengantarkan manusia menuju hari terakhirnya,”  tulisnya pada surat pertama.

Sementara surat kedua berbunyi, “Pada hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku, saat aku berada di ambang maut, aku tulis surat ini untukmu. Penyakit yang menyerang kandung kemih dan perutku sedang kambuh, tak kurang parah dari biasanya, namun kebalikan dari semua itu adalah timbulnya kebahagiaan dalam hatiku karena teringat percakapanku denganmu.”

Filsafat Epikurus dibangun untuk ketenteraman jiwa. Ia secara konsisten menganggap kenikmatan sebagai yang baik. “Kenikmatan adalah awal dan akhir hidup yang penuh berkah,” ujarnya. “Aku tidak tahu bagaimana mengonsepsikan kebaikan, jika aku menghindari kenikmatan lidah, menghindari kenikmatan cinta, serta kenikmatan-kenikmatan pendengaran dan penglihatan,” lanjutnya.

Epikurus juga mengatakan bahwa permulaan dan akar semua kebaikan adalah kenikmatan perut, bahkan kebijaksanaan  dan kebudayaan pun harus dikembalikan kepada hal itu.

Kenikmatan batin menurut Epikurus adalah kontemplasi atas kenikmatan-kenikmatan tubuh. Satu-satunya kelebihannya dibanding kenikmatan tubuh adalah bahwa kita bisa belajar untuk lebih banyak mengntemplasikan kenikmatan daripada penderitaan, dan karena itu kita bisa kebih banyak mengendalikan kenikmatan mental daripada kenikmatan fisik. 

Epikurus menyatakan tidak sependapat dengan para hedonis sebelumnya tentang perbedaan kenikmatan aktif dan kenikmatan pasif. Kenikmatan aktif terdapat dalam tercapainya tujuan yang diinginkan, keinginan yang sebelumnya itu disertai penderitaan. Kenikmatan pada pemuasan rasa lapar pada saat upaya itu masih berlangsung disebut sebagai kenikmatan aktif, sementara kepuasan setelah rasa lapar itu selesai disebut kenikmatan pasif. Epikurus berkata bahwa lebih bijaksana jika yang dikejar adalah kenikmatan pasif dengan alasan bahwa kenikmatan jenis itu lebih murni dan tidak mengharuskan penderitaan sebagai perangsang munculnya keinginan.

Dengan demikian, praktik mencari kenikmatan sebagai tujuan manusia bijaksana menurut Epikurus lebih terarah ke tujuan tiadanya penderitaan daripada adanya kenikmatan. Perut boleh jadi merupakan akar segala sesuatu, namun penderitaan yang diakibatkan oleh sakit perut lebih berat daripada kenikmatan yang dihasilkan. Epikurus konsisten mempraktikkan pandangannya itu dengan hanya makan sedikit roti dan keju.***

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , .

Tinggalkan Balasan