PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT DAVID HUME

David Hume (1711-1776) salah seorang filsuf Inggris termashyur. Salah satunya disebabkan kemampuannya mengembangkan filsafat empiris Jhon Locke dan Berkeley menjadi logis dan konsisten.

Karya paling terkenalnya adalah Treatise of Human Nature, yang ditulis ketika Hume masih belum mencapai usia 30 tahun. Dia tampaknya sengaja menunggu kritikan tajam untuk bukunya yang telah ia persiapkan dengan jawaban yang sangat cerdas. Sayangnya, menurut pengakuan Hume, tidak ada orang yang tertarik mengomentari bukunya. “Buku ini luput dari perhatian pers. Namun, dengan suasana hati yang riang dan ceria, saya segera pulih dari situasi yang sangat mengecewakan itu,” ujarnya.

Optimismenya ia buktikan dengan mengedit Treatise dengan membuang beberapa bagian dan menjadikannya buku dengan judul Inquiry to Human understanding yang kemudian sangat terkenal. Uniknya, para pengamat mengatakan bahwa bagian yang dibuang oleh Hume justru merupakan bagian terbaik dari Treatise.

Hume juga menulis beberapa buku selain yang disebutkan tadi, di antaranya: Dialoques Concerning Natural Religion, Essays on Miracles, dan History of England.

Ketika Hume mengunjungi Paris tahun 1763, ia menjalin persahabatan dengan Rousseau, filsuf yang memiliki watak yang bertolak belakang dengannya. Hume memiliki kesabaran yang sangat mengagumkan semetara Rousseau disebut seorang maniak. Karakter Hume sendiri ia tegaskan dalam apa yang ia sebut sebagai ‘pidato pemakaman’. “Saya adalah orang berwatak halus, menguasai amarah, terbuka, sosial, dan humoris, pengasih, namun sedikit rawan terhadap permusuhan, dan memiliki hasrat yang sedang-sedang saja. Bahkan kecintaaan saya akan ketenaran sastra yang menguasai diri saya, tidak menyurutkan amarah saya, kendati saya juga sering merasa kecewa.” Katanya.

Filsafat Moral Hume

Menurut Hume, evaluasi moral dan karakter, muncul dari sentimen (emosi). Sentimen moral memiliki kualitas fenomenologis yang unik, dan juga satu perangkat khusus. Sentimen moral dihasilkan dari perenungan seseorang atau tindakan yang dievaluasi tanpa memperhatikan kepentingan diri sendiri, dan dari perspektif umum.

Menurut Hume, rasa senang menghasilkan persetujuan, dan ketidaksetujuan dihasilkan ketidaknyamanan. Sentimen moral dapat diintensifkan melalui kesadaran kita terhadap respons moral orang lain. Ia adalah jenis kesenangan dan kegelisahan yang berhubungan dengan nafsu kebanggaan dan kerendahan hati, cinta dan kebencian (ketika kita merasa persetujuan moral dari orang lain kita cenderung mencintai dan menghargainya, dan ketika kita menyetujui suatu sifat dari kita sendiri kita menjadi bangga).

Dalam risalahnya Hume merinci penyebab sentimen moral dan menjelaskan mengapa sifat menyenangkan seseorang terbukti menghasilkan persetujuan orang lain. Dia mengklaim bahwa sentimen moral persetujuan dan ketidaksetujuan disebabkan oleh cara kerja simpati. Bukan perasaan, melainkan mekanisme psikologislah yang memungkinkan seseorang menerima komunikasi sentimen orang lain.

Simpati pada umumnya beroperasi sebagai berikut. Pengamatan efek kasih sayang terhadap orang lain diawali  ekspresi luar, yaitu wajah dan percakapan yang kemudian menyampaikan gagasan gairah ke dalam pikiran. 

Menurut Hume, setiap saat manusia memiliki kesan maksimal yang hidup dan kuat dari dirinya sendiri. Suatu persepsi secara otomatis ditransfer kepada orang lain yang terkait dengan adanya kemiripan, kedekatan, dan sebab dan akibat. Hubungan yang relevan terutama kemiripan dan kedekatan. Semua manusia, tanpa memandang perbedaan, serupa dalam struktur tubuh dan dalam jenis nafsu yang mereka miliki serta penyebabnya. Orang yang saya amati dapat menyerupai saya dalam berbagai fitur yang lebih khusus. Karena kemiripan dan persentuhan saya dengan orang yang saya amati, ide gairah dalam pikiran saya terkait dengan kesan saya sendiri dan memperoleh dorongan kuat darinya.

Satu-satunya perbedaan antara ide dan kesan adalah tingkat keaktifan atau kelincahan yang dimiliki masing-masing. Ketika gagasan gairah dalam pikiran saya menjadi kesan, saya benar-benar mengalami gairah. Ketika saya mau berbagi dalam kasih sayang dengan orang lain, dan merasa senang karena mereka senang, seperti yang saya lakukan ketika saya mengalami kenikmatan estetika sebuah kapal yang dirancang dengan baik atau lapangan subur yang tidak saya miliki sendiri, rasa senang itu hanya bisa disebabkan oleh simpati.

Hume mengamati, ketika kita merenungkan karakter atau kualitas mental yang mengetahui kecenderungan baik untuk kepentingan atau kenikmatan orang lain atau bahaya atau kegelisahan mereka, kita merasakan kenikmatan ketika dapat melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain, dan menjadi gelisah ketika hal tersebut tidak menyenangkan kepada mereka. Reaksi ini, kecenderungan sifat karakter yang mempengaruhi sentimen orang lain dengan siapa kita tidak memiliki hubungan kasih sayang, hanya dapat dijelaskan oleh simpati.

Kebajikan buatan (keadilan sehubungan dengan hak milik, kesetiaan kepada pemerintah, dan kepatuhan terhadap hukum negara dan norma), menurut Hume dibuat semata-mata untuk kepentingan masyarakat banyak. Hal ini menegaskan bahwa refleksi atas kecenderungan karakter dan kualitas mental, cukup untuk memberikan sentimen persetujuan dan dan ketidaksetujuan.

Simpati adalah persetujuan moral yang kita rasakan terhadap karakter. Karakter adalah sarana untuk tujuan kita menemukan hal menyenangkan sebagai hasil dari simpati. Hume meluaskan analisisnya dengan persetujuan sebagai kebajikan alami. Sifat-sifat yang kita setujui secara alami, seperti kebaikan juga cenderung baik secara individu maupun umum. Melalui simpati dengan kesenangan bagi mereka yang menerima manfaat. Manifestasi dari kebajikan alam, yang secara langsung menguntungkan setiap individu, bahkan lebih cenderung memberikan kesenangan melalui simpati daripada melalui manifestasi keadilan.*

Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan