PHILOSOPHY TODAY: FILSAFAT ARTHUR SCHOPENHAUER

Filsafat Schopenhauer-5

Dunia Sebagai Kehendak

Adalah refleksi filosofis abadi bila seseorang memasuki kedalaman dirinya sendiri, ia akan menemukan esensi sendiri dan juga esensi dari alam semesta. Sebagai bagian dari alam semesta, energi alam semesta mengalir menuju diri sendiri, karena energi itu mengalir melalui segala sesuatu. Seseorang dapat mengadakan kontak dengan alam semesta jika mengadakan kontak dengan batinnya.

Prinsip kesadaran diri merupakan prinsip yang paling sering diidentifikasi dalam filsuf Idealis Jerman seperti Fichte, Schelling dan Hegel yang berfilsafat dalam tradisi Cartesian. Dengan keyakinan bahwa dalam kesadaran diri proses kreatif mirip dengan penciptaan ilahi, dan mengembangkan logika yang mencerminkan struktur kesadaran diri, yaitu logika dialektis posisi, oposisi dan rekonsiliasi (kadang-kadang digambarkan sebagai tesis, antitesis dan sintesis). Idealis Jerman menyatakan bahwa logika dialektis mencerminkan struktur produksi manusia, baik individu dan sosial, juga struktur realitas secara keseluruhan, yang dipahami sebagai substansi yang berpikir.

Bagi Schopenhauer yang menentang Idealis tradisional Jerman dan metafisika kesadaran diri mereka yang dia anggap terlalu intelektual, percaya bahwa prinsip tertinggi alam semesta dapat dipahami melalui introspeksi, dan secara filosofis dapat memahami dunia sebagai manifestasi berbagai prinsip umum. Bukan prinsip kesadaran diri dan kemauan rasional melainkan apa yang ia namakan sebagai “kehendak” yang tanpa tujuan, dorongan irasional sebagai dasar naluri, dan menjadi dasar segalanya.

Orisinalitas pemikiran Schopenhauer sejatinya bukanlah dalam hal karakterisasi dunia sebagai kehendak; sebab hal itu bisa kita temukan dalam pemikiran Fichte; melainkan dalam hal konsepsi kehendak sebagai irasionalitas.

Schopenhauer menolak pemikiran Kant yang mengatakan bahwa sensasi disebabkan oleh objek yang tidak diketahui yang eksis secara independen pada diri manusia. Selanjutnya Schopenhauer mengatakan bahwa tubuh yang merupakan salah satu di antara banyak objek di alam, kita pahami dalam dua cara yang berbeda: kita rasakan tubuh kita sebagai objek fisik di antara benda-benda fisik lainnya, tunduk pada hukum-hukum alam yang mengatur gerakan semua benda-benda fisik, dan menyadari tubuh kita melalui kesadaran langsung, karena kita masing-masing sadar tentang tubuh kita, sengaja bergerak dan merasakan langsung kesenangan, sakit, dan keadaan emosional kita. Secara objektif kita dapat melihat tangan kita sebagai objek eksternal sebagaimana seorang dokter ahli bedah menganggapnya selama suatu proses operasi medis, dan kita juga bisa subjektif menyadari tangan kita sebagai sesuatu yang kita punyai, sebagai sesuatu yang kita sengaja gerakkan, dan yang bisa kita rasakan.

Schopenhauer menegaskan bahwa di antara semua benda di alam semesta, hanya ada satu objek, relatif terhadap masing-masing kita, yaitu tubuh kita, yang diberikan dalam dua cara yang sama sekali berbeda. Pertama sebagai representasi (obyektif; eksternal) dan kedua sebagai kehendak (subyektif; internal). Salah satu kesimpulan menarik adalah bahwa ketika kita menggerakkan tangan misalnya, hal itu bukanlah sebagai tindakan motivasi yang pertama terjadi, dan kemudian menyebabkan gerakan tangan kita sebagai efek. Sebaliknya dia mengatakan bahwa gerakan tangan kita seperti dua sisi mata uang, satu sisi adalah perasaan subjektif dan sisi lain adalah kehendak. Menurutnya, gerakan tubuh tidak lain adalah tindakan objektifikasi kehendak, yang diterjemahkan ke dalam persepsi.

Dengan argumentasinya, Schopenhauer menetapkan representasi, hanya salah satu dari banyak gagasan representasi tubuh yang memiliki kualitas khusus. Ketika seseorang melihat bulan atau pebukitan, dia tidak dalam keadaan memiliki akses langsung ke dalam metafisis benda tersebut; mereka tetap sebagai representasi yang mengungkapkan dari sisi tujuan. Schopenhauer bertanya, bagaimana ia bisa memahami dunia sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, atau bagaimana ia mungkin membuat seluruh bidang persepsinya lebih dipahami, yang langsung dapat mengalami salah satu representasi? Untuk menjawab pertanyaan ini, ia menggunakan pengetahuan tubuhnya sendiri sebagai kunci untuk memahami setiap fenomena alam lainnya: Seolah-olah ia sedang mencoba untuk membuat teori empati universal di mana setiap objek dalam dunia secara metafisis memiliki aspek ganda, aspek luar dan aspek batin, di mana kesadaran adalah aspek batin. Untuk alasan tersebut, ia menolak interaksionisme Descartes yang mengatakan substansi yang berpikirlah yang menyebabkan perubahan sesuatu dan bukan sebaliknya….

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .