PHILOSOPHY TODAY: EMOSI

EMOSI

Apa yang dimaksud dengan emosi? Sejak zaman Socrates (Sekitar abad ke-5 SM) hingga pemikir modern, pencarian terhadap posisi sesuatu hal yang dianggap di luar akal itu, khususnya penelaahan terhadap dualisme tubuh dan jiwa, pikiran (nalar) dan perasaan (emosi) terus berlanjut. Sejalan dengan itu, posisi emosi dalam pandangan para pemikir mengalami pasang surut.

Plato murid Socrates menempatkan nalar bertahta di posisi paling tinggi dengan mengumpamakan hubungan antara keduanya sebagai hubungan tuan dengan budak. Ia mengatakan bahwa emosi harus dikontrol oleh nalar. Pandangan itu diikuti hingga era modern bahkan dengan sangat ekstrim oleh Rene Descartes dengan ungkapan yang sangat terkenal ‘I think before i’m (Saya berpikir maka saya ada).

Metafora tuan-budak masih bertahan hingga saat ini dalam pandangan para filsuf dan menghasilkan dua ciri yang melekat pada emosi. Pertama adalah ciri inferior, gagasan bahwa emosi merupakan hasil perkembangan primitif manusia. Pandangan ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa mamalia lain selain manusia juga bisa menunjukkan emosi. Kedua, distingsi yang melekat pada nalar-emosi yaitu ketika kita berhadapan dengan peristiwa di mana keduanya mengalami pertentangan, biasanya nalar selalu didahulukan.

Persoalan dominasi nalar semakin kukuh dengan melekatkannya ke ranah jender dengan ungkapan yang akrab terdengar, ‘pria menggunakan pikiran sementara wanita menggunakan perasaan’.

Sebuah proyek iconoclast dari seorang pemikir Skotlandia David Hume (1739-1888) yang mendeklarasikan bahwa nalar adalah budak bagi emosi (reason is, and ought to be, the slave of the passion). Namun, meski Hume dengan cerdas mengemukakan analisisnya, pemikirannya tidak mampu meruntuhkan posisi nalar dari tempat tertinggi.

Bagian Pembentuk Moral

Meski sejarah filsafat dapat dinyatakan sebagai sejarah perkembangan pemikiran, bukan berarti para filsuf sama sekali mengabaikan tentang emosi. Dalam kaitan itu, kata ‘passion’ dan ‘emosi’  mengalami sejarah panjang yang sering dipertukarkan dengan kata ‘perasaan’, ‘hasrat’, ‘sentimen’, mood‘, ‘attitude‘, ‘afektif’, dan lain-lain, yang muncul sesuai dengan situasi dan waktu tertentu.

Berbagai bentuk istilah itu bisa menyesatkan ketika kita menyamakan semuanya. Persoalannya adalah ketika kita membahas tentang etika, ‘passion’ atau ‘emosi’ adalah bagian partikular yang berperan dalam pembentukan moral.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan