PHILOSOPHY TODAY: “EMOSI MENURUT ARISTOTELES”

Emosi yang kita maksud, bukan merupakan bagian dari apa yang disebut oleh Plato dalam Republik sebagai tripartit jiwa: nalar (reason), roh (spirit), dan hasrat (appetite). Bukan pula sebagai sesuatu yang berada di antara roh dan hasrat, tetapi tampaknya lebih sesuai dengan diskusi Plato tentang eros sebagai cinta akan kebaikan dalam dialog Symposium yang menjelaskan keterlibatan emosi dalam nalar.

Emosi Menurut Aristoteles

Aristoteles (384-322 SM) tidak hanya memandang emosi sebagaimana menurut Plato, tetapi juga berupaya membuat taksonomi tentang emosi. Dalam Retorika, ia mendefinisikan emosi sebagai sesuatu yang mengarahkan suatu kondisi dan mentransformasikannya menjadi penilaian yang menyatu dengan rasa nikmat dan rasa sakit. Contoh emosi menurut Aristoteles adalah rasa marah, rasa takut, rasa kasihan, dll. Aristoteles mendefinisikan rasa marah sebagai tekanan hasrat untuk balas dendam sebagai balasan atas penghinaan terhadap seseorang yang tidak dapat diterima. Ia menambahkan bahwa rasa marah selalu mengarah kepada seseorang sebagai objek kemarahan.

Aristoteles yang kuat dalam berbagai disiplin ilmu dapat mengantisipasi teori etika kontemporer. Analisisnya tentang rasa marah meliputi komponen kognitif khusus, konteks sosial tertentu, kecenderungan perilaku, dan pengenalan tentang rangsangan fisik.

Aristoteles juga menyatakan bahwa ketidaknyamanan fisik dan psikis dalam hal kemiskinan, perang, cinta, harapan, dan rasa syukur menimbulkan kecenderungan hadirnya rasa marah.

Poin penting dari pandangan Aristoteles tentang emosi adalah fakta bahwa analisisnya hanya dalam konteks perhatian etis dalam arti luas. Rasa marah demikian penting bagi dia karena hal itu merupakan reaksi alamiah tehadap kejahatan moral yang dapat disebabkan oleh nalar dan retorika.

Rasa marah dan beberapa emosi lainnya khususnya rasa bangga terdapat dalam daftar keutamaan yang disusun Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, yang ia diskusikan secara detil dalam berbagai lingkungan yang sesuai untuk mengetahui seberapa besar kadar kemarahan yang dapat dibenarkan. 

Aristoteles juga mengatakan bahwa pemberian maaf juga merupakan keutamaan, namun tidak selalu. Bahkan, ia menegaskan bahwa hanya orang bodoh yang tak memiliki rasa marah. Meskipun kemarahan bisa kebablasan, namun tidak adanya rasa marah juga menunjukkan tidak adanya keutamaan.*** 

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan