PHILOSOPHY TODAY: EMOSI DAN PERASAAN

EMOSI DAN PERASAAN

Teori emosi yang paling sederhana dan mungkin juga paling representatif adalah teori yang mengatakan bahwa emosi hanya sejenis perasaan, yang berasal dari sensasi persepsi yang disertai kualitas pengalaman.

William James mengusulkan varian dari pandangan ini (dikenal sebagai teori emosi James-Lange)  yang meyakini bahwa emosi adalah perasaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi fisiologis yang berkaitan dengan fungsi otonom dan motorik otak. Misalnya, ketika indera kita mempersepsi bahwa kita berada dalam situasi bahaya, persepsi itu direspons oleh tubuh, dan kesadaran kita terhadap respons itulah yang kita alami menjadi perasaan takut. James bermaksud bahwa seseorang merasa takut karena gemetar, bukannya gemetar karena merasa takut (James 1884, 190).

Masalah yang timbul dengan teori ini adalah bahwa ia tidak dapat memberikan penjelasan yang memadai tentang perbedaan masing-masing emosi. Keberatan terhadap teori itu pertama kali disuarakan oleh Walter Cannon (1929). Menurut James, yang membedakan emosi adalah kenyataan bahwa setiap emosi melibatkan persepsi yang unik dari perubahan kondisi tubuh. Cannon mengaku, bahwa reaksi emosi yang berbeda seperti rasa takut dan marah adalah identik, sehingga reaksi ini tidak memungkinkan kita untuk memahami emosi yang berbeda.

Sebuah eksperimen yang kerap dikutip dilakukan oleh Stanley Schacter dan Jerome Singer (1962) menghasilkan pandangan yang sama. Subjek dalam penelitian mereka disuntik dengan epinefrin, suatu stimulan sistem simpatik. Schacter dan Singer menemukan subjek cenderung menafsirkan gairah yang dialami subjek baik sebagai kemarahan atau euforia, tergantung pada jenis situasi mereka ditempatkan.

Beberapa subjek ditempatkan di sebuah ruangan di mana seorang aktor berpura-pura marah; yang lain ditempatkan di sebuah ruangan di mana seorang aktor bertindak konyol. Dalam kedua kasus perasaan subyek cenderung mengikuti aktor. Kesimpulan yang paling sering ditarik adalah, meskipun beberapa bentuk rangsangan umum mudah diberi label dalam hal beberapa keadaan emosional, tidak ada petunjuk untuk menemukan keadaan fisiologis yang berbeda secara prinsip. 

Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa sejumlah emosi pada kenyataannya menunjukkan profil tubuh yang berbeda secara signifikan (LeDoux 1996; Panksepp 1998). Namun, perubahan otak atau tubuh dan perasaan yang menyertai perubahan ini membuat kita hanya memahami bagian perjalanan menuju taksonomi yang memadai. Untuk menjelaskan perbedaan antara rasa bersalah dan rasa malu misalnya, teori yang masuk akal harus melihat melampaui fenomena fisiologi.

Masalah lain dengan asimilasi emosi dan perasaan adalah bahwa hal itu cenderung dipandang sebagai fakta kasar, penjelasan biologis atau psikologis yang tidak dapat dirasionalisasi. Emosi, bagaimanapun, sebaiknya tidak hanya bertujuan menjelaskan, tetapi juga membenarkan keterkaitan dengan alasan yang menimbulkannya. Jika seseorang marah kepada saya, saya bisa merasakan tekanan nada suaranya; jika seseorang membuat saya cemburu, saya bisa merasakan perasaan yang ditimbulkannya.(Taylor 1975).

Kedua masalah, perbedaan emosi individu dan penjelasan untuk berbagai ikatan emosi-rasionalitas dapat ditelusuri, setidaknya sebagian, dengan pemahaman yang lebih mendasar. Teori perasaan, dengan mengasimilasi emosi untuk sensasi, gagal memperhitungkan fakta bahwa emosi biasanya diarahkan pada obyek intensional. Cacat ini, untuk batas tertentu dapat direduksi dalam versi teori emosi yang lebih canggih.

Peter Goldie (2000) baru-baru ini menganjurkan kembali ke identifikasi hubungan emosi dengan perasaan, dengan alasan bahwa perbedaan di antaranya diputuskan di tempat yang salah. Ia menyimpulkan bahwa perasaan juga dapat memiliki objek intensional di dunia luar tubuh (ia sebut sebagai perasaan terhadap sesuatu). Beberapa perasaan emosional hanya perasaan tubuh dan dengan demikian, meskipun disengaja, tidak memiliki semacam intensionalitas (Goldie 2009). Goldie menolak kedua teori reduktif yang menganggap emosi sebagai senyawa antara keyakinan dan keinginan belaka. Selanjutnya, Goldie menyatakan bahwa emosi primitif tertentu, sebagai analogi ilusi persepsi kognitif, memengaruhi  kecenderungan tindakan tanpa perantaraan proposisi atau konsep (Goldie 2003).***

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .