PHILOSOPHY TODAY: “ARISTOTELES TENTANG KENIKMATAN”

Kaum ortodoks meyakini bahwa jika terdapat dua cara bertindak yang mungkin, hati nurani akan memberitahu saya mana yang benar. Jika saya memilih melakukan yang lain berarti saya berdosa. Bagi mereka, keutamaan lebih ditujukan sebagai upaya untuk menghindari dosa daripada hasil tindakan positif lainnya. Mereka juga meyakini bahwa tak ada alasan untuk mengharapkan bahwa seseorang yang terpelajar akan lebih baik secara moral daripada seseorang yang tidak terpelajar. Orang pintar dan bodoh tidak ada bedanya.

Umumnya filsuf modern tidak setuju dengan etika seperti itu. Mereka berpendapat bahwa orang harus lebih dulu menentukan apa yang baik lalu mengarahkan tindakan yang sedemikian rupa sehingga bisa mewujudkan yang baik itu.

Cara pandang Aristoteles

Cara pandang Aristoteles menyerupai cara pandang filsuf modern. Ia berpendapat bahwa kebahagiaan adalah kebaikan.

Ada dua jenis teori etika bila dipandang dari segi keutamaan, yaitu teori yang memandang keutamaan sebagai sarana dan keutamaan sebagai tujuan. Aristoteles mengemukakan pandangan bahwa keutamaan adalah sarana untuk mencapai tujuan, yakni kebahagiaan. Menurutnya, tujuan adalah apa yang kita dambakan, sedangkan sarana adalah apa yang kita pertimbangkan atau kita pilih.

Bagian yang cukup luas dalam etika Aristoteles adalah tentang persahabatan. Ia mengatakan bahwa persahabatan yang sempurna hanya bisa terjadi pada orang-orang baik. Bersahabat dengan banyak orang adalah mustahil. Lucunya, ia mengatakan hendaknya seseorang tidak bersahabat dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi, kecuali jika ia memiliki kemampuan atau kelebihan yang istimewa. 

Tentang persahabatan dengan diri sendiri, Aristoteles mengatakan bahwa hal itu hanya mungkin terjadi pada orang baik. “Orang jahat biasanya membenci dirinya,” katanya.

Selanjutnya Aristoteles membahas tentang kenikmatan. Ia mulai dengan memilah-milah pandangan tentang kenikmatan, yaitu (1) Semua kenikmatan tidak baik, (2) Sebagian kenikmatan baik, dan (3) Semua kenikmatan baik, namun bukan yang terbaik.

Aristoteles menolak poin (1) dengan alasan bahwa penderitaan sudah pasti buruk sehingga kenikmatan tentulah baik. Ia mengatakan bahwa tak masuk akal jika manusia bisa bahagia dalam penderitaan.

Aristoteles juga menyangkal bahwa pandangan bahwa semua kenikmatan bersifat jasmaniah. Menurutnya, segala sesuatu mengandung unsur rohanidan karenanya mengandung kecenderungan untuk meraih kenikmatan yang lebih tinggi. Orang yang baik menurut Aristoteles akan merasakan kenikmatan, kecuali ia bernasib buruk.

Pada pembahasan selanjutnya, ia mengatakan bahwa ada jenis kenikmatan yang buruk, namun kenikmatan itu bukanlah jenis kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang baik..

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan