Philosophy Today

Henry Bergson….

Kerangka besar filsafat Bergson dipenuhi oleh uraian tentang perkembangan aktual kehidupan di bumi. Bagian pertama arus perkembangan itu adalah menjadi tanaman dan hewan. Tanaman bertujuan menyimpan energi sedangkan hewan bertujuan menggunakan energi untuk gerakan cepat dan mendadak. Namun belakangan, pada hewan muncul suatu dualisme, pemisahan intelek dan naluri. Masing-masing intelek dan naluri tidak pernah lengkap tanpa yang lain, tetapi intelek terutama merupakan kemalangan manusia, sedangkan naluri terlihat paling banter pada binatang.

Pembagian naluri dan intelek merupakan inti filsafat Bergson, yang mirip dengan filsafat Sandford dan Merton, dengan naluri sebagai ‘anak yang baik’ dan intelek sebagai ‘anak nakal’.

Naluri, Bergson menyebutnya intuisi. Bergson menyebut intuisi sebagai naluri yang menjadi tak terpengaruh, sadar diri, mampu merenungkan objeknya dan memperluasnya secara tak terbatas.
Uraiannya tentang kerja intelek tidak selalu mudah diikuti, namun jika kita ingin memahami Bergson, kita harus memahami tentang intelek sebaik-baiknya.

Inteligensi atau intelek dengan meninggalkan kekuasaan alam, memiliki objek utama zat padat anorganik. Intelek bisa membentuk ide yang gamblang hanya bila ide itu diskontinu dan immobil; konsep-konsepnya di luar satu sama lain seperti objek-objek di dalam ruang, dan memiliki stabilitas yang sama. Intelek terpisah dalam ruang dan menetap dalam waktu.

Konsep itu tidak dibuat untuk membayangkan evolusi, tetapi untuk melambangkan menjadi (becoming) serangkaian keadaan. “Intelek bisa disifati dengan ketidakmampuan alamiah untuk memahami kehidupan.”: geometri dan logika, yang merupakan produk khas intelek, bisa diterapkan dengan tepat pada benda padat, tetapi untuk yang lain penalaran harus dicek dengan akal sehat, yang sebagaimana dikatakan oleh Bergson dengan tepat, merupakan hal yang sangat berbeda…

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .

Tinggalkan Balasan