Philosophy Today

Pengalaman mengajarkan bahwa masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada pendidikan kaum muda. Kita kerap terjerat dalam pengalaman dan keyakinan yang menunjukkan bahwa seolah-olah gerak sejarah tidak selalu rasional, selalu saja ada bias yang memungkinkan munculnya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Tetapi, kita juga salah bila selalu menggantungkan masa depan kepada irasionalitas, hanya kepada takdir. Tidak semua memang orang berpendidikan mencapai taraf kehidupan yang dianggap berhasil dalam ukuran sosial, tetapi berpikir bahwa dengan demikian pendidikan tidak perlu tidak berbeda dengan mengatakan bahwa semua angsa berwarna hitam.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah kesukaan kita membandingkan secara interpersonal antara si A yang dianggap berpendidikan dengan si B yang dianggap tidak berpendidikan. Perbandingan seperti itu sangat absurd sebab kita mengalami kesulitan untuk mengukur potensi awal dan akhir mereka. Yang adil adalah membandingkan seorang individu yang tidak terdidik dengan ia sendiri kalau terdidik, yang mana yang lebih baik?   TIO

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , .