PHILOSHOPHY TODAY: FILSAFAT ARTHUR SCHOPENHAUER

FILSAFAT ARTHUR SCHOPENHAUER

Pengaruh Pemikiran Arthur Schopenhauer

Sejauh mana pemikiran Schopenhauer terhadap pemikir sesudahnya? Filsafat Schopenhauer mempengaruhi banyak pemikir, sebagian karena pandangannya yang mengakui nilai-nilai moral tradisional tanpa harus mendalilkan tentang keberadaan Tuhan. Pandangannya juga memberikan ruang bagi kemungkinan adanya pengetahuan mutlak melalui pengalaman mistik.

Schopenhauer juga secara implisit menantang hegemoni penjelasan sains dan lebih menyukai gaya pemahaman gaya pemahaman musikal dan sastra. Pemikirannya bahwa alam semesta secara fundamental adalah irasional, juga menarik bagi pemikir abad ke-20 yang memahami kekuatan insting sebagai irasional, namun membimbing, kekuatan yang mendasari perilaku manusia.

Pengaruhnya menjangkau bukan hanya di kalangan filsuf melainkan juga kalangan penyair, dramawan, esais dan berbagai bidang lainnya. Di antara tokoh yang layak dicatat menerima pengaruh Schopenhauer adalah Samuel Beckett, Charles Baudelaire, Thomas Bernhard, Thomas Hardy, Jorge Luis Borges, Jacob Burckhardt, Joseph Conrad, André Gide, George Gissing, Franz Grillparzer, Gerhardt Hauptmann, Friedrich Hebbel, Hugo von Hoffmansthal, Joris Karl Huysmans, Ernst Jünger, Karl Kraus, D. H. Lawrence, Joaquim Maria Machado de Assis, Stephane Mallarmé, Thomas Mann, Guy de Maupassant, Herman Melville, Robert Musil, Edgar Allan Poe, Marcel Proust, Arno Schmidt, August Strindberg, Italo Svevo, Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, Emile Zola, Frank Wedekind, dan W. B. Yeats.

Di antara filsuf, jejak pengaruh Schopenhauer dapat dilihat pada pemikiran Henri Bergson, Julius Bahnsen, Eduard von Hartmann, Hans Vaihinger, Suzanne Langer, Philipp Mainländer, dan secara khusus Friedrich Nietzsche, yang cenderung berfokus pada aspek-aspek tertentu dari filosofi Schopenhauer, seperti pandangannya tentang arti kehidupan, teorinya tentang kehendak yang irasional.

Di abad ke-19, pemikiran Schopenhauer sering dikaburkan oleh nama besar Kant, Hegel, Marx, Mill, Darwin dan Nietzsche, tetapi penolakannya terhadap konsepsi rasionalisme dunia pada awal 1818 dianggap sebagai bentuk pemikiran yang terlampau dini. Gerakan nihilistik Dada pada pergantian abad di tengah-tengah Perang Dunia I, menegaskan kembalinya filsafat Schopenhauer yang telah muncul hampir satu abad sebelumnya. Ide Schopenhauer tentang pentingnya dorongan insting pada inti dari kehidupan juga muncul kembali pada pemikiran psikoanalisis Freud.

Keyakinannya tentang sejarah manusia yang pesimistik menjadi kata kunci filsafat Perancis sepanjang abad ke-20, setelah dua Perang Dunia meredam sejarah sebagai gerak maju yang disukai para pemikir seperti Hegel dan Marx.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan