PHILISOPHY TODAY: FILSAFAT MORAL EPIKURUS-2

FILSAFAT MORAL EPIKURUS

Epikurus sejatinya tidak menyukai ilmu pengetahuan. Ia semata-mata menggunakannya hanya karena ilmu pengetahuan bisa menjelaskan persoalan-persoalan takhayul yang dianggap berasal dari dewa. Selebihnya ia tidak melihat manfaat adanya ilmu pengetahuan. Dapat diduga bahwa kaum Epikurean tidak memberikan sumbangan apapun terhadap kemjuan ilmu pengetahuan.

Terkait dengan penjelasan hal-hal yang bersifat takhayul, dalam hal terdapat beberapa penjelasan naturalis yang mungkin, ia berpendapat tak ada gunanya untuk menentukan yang mana yang salah dan benar. Sepanjang penjelasan itu tidak membawa-bawa nama dewa, ia memperkenankan beragam pendapat.

Epikurus adalah seorang materialis, namun bukan determinis. Ia sepaham dengan Demokritus bahwa dunia terdiri dari atom-atom dan ruang hampa.Perbedaannya, ia tidak meyakini bahwa atom-atom senantiasa dikendalikan sepenuhnya oleh hukum alam.

Tentang dewa-dewa, Epikurus meyakini bahwa mereka tidak mau merepotkan diri dengan mencampuri urusan manusia. Di dalam kehidupan para dewa yang telah sepenuhnya bahagia, mereka tidak mau melibatkan diri dalam kehidupan publik. Bagi mereka, penyelenggaraan pemerintahan adalah kerja yang tidak ada gunanya serta tidak menarik bagi mereka.

Dengan filsafat demikian, Epikurus mengatakan bahwa tidak perlu ada kecemasan bagi manusia, jangan-jangan ia sudah membuat kemarahan para dewa, atau jangan-jangann sesudah meninggal ia akan menderita di neraka.

Filsafat Epikurus mengajarkan bahwa dua sumber utama kecemasan adalah agama dan rasa takut akan kematian. Pendapat itu tentu tampak ganjil bagi manusia kontemporer yang berpikir bahwa agama berfungsi untuk melenyapkan rasa cemas.  Epikurus berpandangan demikian berpijak pada keinginan untuk membangun suatu metafisika yang mampu membuktikan bahwa para dewa tidak campur tangan pada urusan dunia dan bahwa jiwa akan musnah bersama tubuh setelah kematian. Metafisika demikian ia butuhkan untuk melawan pandangan orang pada zaman itu yang meyakini imortalitas dan menganggap bahwa orang yang meninggal tak akan mendapat kebahagiaan.

Para filsuf modern menganggap bahwa zamannya Epikurus adalah zaman yang lesu, di mana pemadaman gairah tampil sebagai istirahat yang menyenangkan bagi jiwa. Rasa khawatir terhadap kematian, bagaimana pun juga telah berakar sedemikian kuat dalam naluri manusia, yang membutuhkan obat mujarab untuk melenyapkan kecemasan. Obat itu diperoleh dari filsafat agama sehingga ajaran Epikurus hanya menjangkau orang-orang tertentu dalam jumlah terbatas. Bahkan setelah masa pemerintahan Kaisar Augustus, para filsuf menyepakati penolakan terhadap filsafat Epikurus.*

Posted in PHILOSOPHY TODAY.