MEN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-21

Jung dalam hal ini tidak benar-benar berbeda dengan Freud, bahwa bawah sadar termasuk aspek religius menentukan seseorang. Sebaliknya, kami berpendapat bahwa bawah sadar religius dalam hal ini bawah sadar spritual adalah keputusan keberadaan—bawah sadar bukan sekadar dorongan alam bawah sadar.
Seperti yang kita lihat, aspek religius bawah sadar—yakni apa yang kita sebut bawah sadar transenden—adalah agen eksistensial, bukan faktor insting, karena hal itu merupakan eksistensi spritual daripada faktisitas psikofisik. Hal ini diabaikan oleh Jung ketika ia menulis bahwa arketipe harus dipahami sebagai “properti struktural” atau kondisi karakteristik jiwa yang dalam beberapa cara terhubung dengan otak. Dengan demikian religiusitas menjadi sepenuhnya somatik dan kondisi psikis eksistensi manusia—sedangkan hal itu sesungguhnya adalah masalah spritual.
Seperti pengamatan Jung, arketipe religius adalah bentuk impersonal dan ketidaksadaran kolektif yang dapat digali sebagai fakta psikologis dan dengan demikian berhubungan dengan fakta psikofisik. Dari wilayah ini, mereka beroperasi sebagai kekuatan otonom—otonom dalam arti bahwa mereka independen dari keputusan pribadi. Sudut pandang kami adalah bahwa alam bawah sadar religius berasal dari pusat pribadi individu dari pada gambaran impersonal bersama umat manusia.
Jika kita menghargai karakter spritual dan eksistensi bawah sadar religiusitas—bukan menggolongkannya ke ranah psikologis faktisitas—juga tidak mungkin menganggapnya sebagai suatu bawaan lahir. Karena tidak terikat dengan faktor keturunan dalam arti biologis, tidak bisa diwariskan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan