MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-46

Sedikit mengherankan bahwa orang yang terjebak dalam kevakuman eksistensial lebih lama, bila makna tidak bisa diperoleh, untuk membuktikan kepada diri mereka sendiri paling tidak sekadar perasaan bermakna seperti mereka yang berada dalam keadaan mabuk akibat LSD. Dalam beberapa keadaan di mana tiba-tiba dunia mengambil kebermaknaan yang tak terbatas. Namun, jalan pintas itu terbukti akhirnya menjadi buntu, sebab sangat mungkin bahwa orang yang berada dalam waktu lama dalam keadaan LSD dalam waktu lama akan menjadi seperti hewan percobaan yang digunakan dalam percobaan stimulasi diri. Penelitian yang dilakukan dengan memasukkan elektroda ke dalam hipotalamus seekor tikus, ketika aliran listrik ditutup, tikus-tikus tampak mengalami baik orgasmeĀ seksual dan kepuasan makan. Ketika tikus-tikus kemudian belajar melompat dan dengan demikian bisa mematikan aliran listrik sendiri, mereka kemudian ketagihan melakukannya hingga 50.000 kali dalam sehari. Apa yang saya maksudkan dengan contoh ini adalah bahwa hewan-hewan ini akhirnya mengabaikan pasangan dan makanan mereka yang sesungguhnya. Saya pikir, kepala yang membuat mereka nyaman dengan hanya sekadar perasaan bermakna dapat menyeberangi makna sesungguhnya yang tersimpan bagi mereka, yang dipenuhi di luar dunia, dari pada dalam tubuh mereka sendiri.

Sejak saya mendalami hipotesis ini, dengan memperhatikan berbagai sumber yang diturunkan dari obat-obatan, banyak penulis telah menuliskan tentang perasaan ketidakbermaknaan seperti yang dilaporkan oleh seorang remaja yang terlibat dengan obat-obatan. Dr. Betti Lou Padelford nenunjukkan bahwa kehilangan figur ayah yang kuat yang kepada mereka anak remaja pria mengidentifikasi diri telah dipikirkan oleh berbagai otoritas sebagai penyebab keterlibatan dalam obat-obatan.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan