MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-44

Sudah lama para psikolog mengetahui permainan itu sendiri dengan istilah psikologi dalam. Psikologi dalam berikutnya dilihat sebagai kesadaran dinamis polos yang mendasari perilaku manusia. Mungkin inilah ilustrasi terbaik yang disebut oleh Joseph Wilder sebagai joke singkat psikiater yang pernah didengarnya:

“Apakah Anda seorang psikater?”

“Mengapa Anda bertanya?”

“Anda pasti seorang psikiater.”

Dengan berupaya membuka topeng orang yang memberikan pertanyaan kepadanya, sebenarnya sang psikiater justru membuka topeng dirinya sendiri. Sekarang kepolosan telah sempurna, namun saya ingin mengatakan bahwa hal itu akan berakhir segera setelah seseorang menemukan keaslian, asli secara manusiawi, dalam diri manusia. Bila hal itu tidak berhenti, hanya sesuatu yang berupa kepolosan psikologis yang membuatnya benar-benar terungkap, yang disebut moti tersembunyi, kebutuhan sadarnya untuk merendahkan dan mendepresiasi kemanusiaan manusia.

Tentang hyperintention yang saya sebutkan sebelumnya, hal itu terbukti paling berbahaya ketika ia menjadi interpretasi diri. Para psikiater telah menemukan banyak pasien yang menderita obessive compulsion untuk menganalisis mereka sendiri, meneliti dan memperhatikan diri mereka sendiri, untuk berefleksi terhadap diri mereka sendiri. Iklim budaya yang ada di Amerika Serikat membuktikan bahwa adanya kesempatan berbahaya bagi kompulsi menjadi neurosis obsessive kolektif. Dengan mempertimbangkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Edith Weiskoff -Joelson dan rekan-rekannya yang menunjukkan bahwa nilai dengan peringkat tertinggi bagi pelajar Amerika adalah interpretasi diri. Temuan ini adalah indikasi lain dari kevakuman eksistensial. Seperti bumerang yang kembali kepada pemiliknya ketika ia tidak menemukan sasaran, demikian manusia kembali kepada dirinya sendiri, merefleksikan dirinya sendiri, dan memperhatikan dirinya secara berlebihan hanya ketika ia sebelumnya kehilangan sasaran, frustrasi dalam pencarian makna. Apa yang hadir dalam pikiran, adalah pengalaman Freudian dengan pasien yang kehilangan isi hidup, psikoanalisis menjadi pengganti bagi isi hidup itu.

Sekarang kita kembali ke penyebab efek kevakuman eksistensial  yang melampaui neurosis noogenik dan perasaan tak bermakna yang didiagnosis sebagai neurosis sosiogenik. Di antara berbagai dampak adalah apa yang dapat disebut sebagai mass neurotic triad, yaitu berupa depresi, addiksi, dan agresi. Suatu saat saya mengambil taksi ke universitas untuk menghadiri undangan mahasiswa untuk memberikan kuliah terhadap pertanyaan apakah ‘generasi muda gila’. Saya menanyakan pertanyaan itu kepada supir taksi. Ia memberikan jawaban mengejutkan, “Tentu saja mereka gila, mereka membunuh diri mereka sendiri, mereka membunuh sesamanya, dan mereka memakai obat.”

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan