MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-41

Apabila saya diminta untuk menjelaskan secara singkat, saya akan mengatakan bahwa kevakuman eksistensial dihasilkan dari kondisi-kondisi berikut. Tidak seperti hewan, untuk melakukan sesuatu, manusia tidak harus berdasarkan naluri. Secara kontras juga dengan manusia zaman dahulu, ia tidak lagi didikte oleh tradisi dan nilai untuk melakukan sesuatu. Sekarang, mengetahui apa yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan, manusia bahkan kadang-kadang mengetahui apa yang pada dasarnya ingin ia lakukan. Sebaliknya, manusia berharap melakukan apa yang orang lain lakukan—dengan kompromi—atau melakukan apa yang orang lain harapkan untuk dilakukan—dengan totaliarianisme.

Sebagai tambahan pada dua efek kevakuman eksistensial, ada juga yang ketiga, namanya neurotisisme. Kevakuman eksistensial itu sendiri bukanlah neurosis, paling tidak dalam pandangan ketat klinis. Jika hal itu memang neurosis, ia mesti didiagnosis sebagai sociogenic neurosis. Namun, ada juga kasus-kasus di mana  hasil kevakuman eksistensial ada sebagao symptomatology. Beberapa pasien menderita apa yang saya sebut sebagai ‘noogenic neurosis‘. James C, Craumbaugh sangat layak dihormati untuk upayanya mengembangkan suatu tes diagnostik khusus untuk membedakan noogenik dari neurosis dalam bentuk-bentuk lain. Penilaian pada proyek penelitiannya ia dasarkan pada uji PIL. Hasilnya, dengan demikian menambahkan indikasi bahwa sekitar 20 persen neurosis yang diderita seseorang secara alami dan asli adalah noogenik. Elisabeth S Lucas, meskipun menggunakan tes yang berbeda (Logo-test) menemukan persentase yang hampir sama dengan uji Craumbaugh, 

Seorang psikiater komunis menemukan bahwa di antara populasi yang berbeda dari pelajar Czech, persentase yang mengalami kevakuman eksistensial seperti yang diukur oleh Craumbaugh bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan yang diteliti dan dilaporkan di kalangan pelajar Amerika. Setahun kemudian, angka itu menjadi lebih rendah. Selama tahun intervensi, kebanyakan pelajar terlibat dalam gerakan Dubcek, dalam perjuangannya untuk liberalisasi politik dan humanisme komunis. Mereka diberikan  alasan untuk berjuang, untuk hidup, dan sayangnya untuk mati juga.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan