MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-40

Saat ini, kehendak terhadap makna biasanya frustrasi. Dalam logoterapi, orang berbicara tentang frustrasi eksistensial. Para psikiater dihadapkan lebih banyak kasus dari pada sebelumnya di mana pasien mengeluhkan perasaan putus asa yang setara dengan apa yang disebutkan oleh Adler sebagai perasaan inferior. Saya akan mengutip sebuah surat dari seorang pelajar Amerika: “Saya berusia 22 tahun dengan izajah, mobil, keamanan, dan kemampuan seks serta kekuasaan lebih dari yang saya butuhkan. Sekarang saya harus menjelaskan kepada diri saya sendiri, apa arti semua itu.” Bagaimana pun berbagai orang mengeluhkan tidak hanya perasaan tidak bermakna, tetapi juga kekosongan. Karena itulah saya menjelaskan kondisi itu dengan istilah ‘kevakuman eksistensial’.

Tidak diragukan lagi bahwa kevakuman eksistensial mengalami peningkatan dan perluasan. Menurut laporan yang saya tunjukkan sebelumnya, persentase penderita dari 500 orang pemuda telah mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir dari 30 persen menjadi 50 persen. Bahkan di Afrika, kevakuman eksistensial mengalami peningkatan besar, khususnya di kalangan pelajar. Para Freudian sangat menyadari fenomena ini, demikian juga Marxis. Suatu pertemuan internasional psikoanalisis telah mencatat bahwa kebanyakan pasien menderita tidak adanya ‘isi kehidupan’ dari pada simptom klinis, dan kondisi itu merupakan catatan yang baik bagi interminable analyses, sebab seperti argumen Freudian dalam beberapa kasus perawatan psikoanalisis hanya memberikan ‘isi kehidupan’ yang  mungkin kepada pasien. Seorang Marxis yang pernah menjabat sebagai kepala departemen psikiatri di Karl Marx University di Leipzig mengakui frekuensi kevakuman eksistensial berdasarkan investigasinya sendiri. Seorang kepala departemen psikiatri di Czech University menunjukkan bahwa kevakuman eksistensial melewati batas dunia kapitalis dan komunis, tanpa visa.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan