MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-39

Apa yang berada di balik penekanan terhadap pencapaian seks dan kekuasaan, apa yang ada di balik kepuasan terhadap seks dan kebahagiaan, adalah frustrasi kehendak terhadap makna. Libido seksual hanya hyperthrophi dalam kekosongan eksistensial. Hasilnya adalah inflasi seks, dan seperti inflasi di pasar uang, inflasi diasosiasikan dengan devaluasi. Lebih khusus, seks didevaluasi akibat dehumanisasi. Seks manusiawi selalu lebih dari sekadar seks. Ia lebih dari sekadar seks persis pada perluasan bahwa ia melayani sebagai ekspresi fisik dari sesuatu yang metaseksual—ekspresi fisik dari cinta. Hanya perluasan seks yang dapat menghasilkan perwujudan—inkarnasi—cinta, hanya pada perluasan ini ia berpuncak dalam pengalaman penghargaan yang sejati. Dalam hal itu, Maslow dibenarkan ketika ia menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak mencintai tidak pernah mendapatkan hasil yang sama dari seks dengan orang-orang yang memiliki kemampuan dapat mencintai. Dengan demikian, kami harus merekomendasi bahwa seks akan merehumanisasi bila bertujuan sekadar  mendapatkan kepuasan orgasme. Hal ini baru-baru ini dijelaskan sebuah laporan penelitian terhadap 20.000 orang responden dengan 101 pertanyaan tentang sikap dan pengalaman seksual; laporan itu mengungkap bahwa di antara faktor-faktor yang berkontribusi terhadap orgasme yang maksimal, salah satu yang terpenting adalah romantisme.

Namun, tidak cukup akurat untuk mengatakan bahwa seks pada manusia bukan sekadar seks. Seperti yang ditunjukkan oleh seorang etologis Irenaeus Eibl-Eibesfeldt, dalam banyak vertebrata, perilaku seksual berhubungan dengan kohesi sosial, dan hal itu terjadi khususnya bagi leluhur biologis manusia—primata yang hidup dalam kelompok.  Dalam kera tertentu, hubungan seksual kadang-kadang melayani tujuan sosial secara eksklusif. Bagi manusia, Eibl-Eibestfeldt mencatat bahwa tidak diragukan lagi bahwa hubungan seksual tidak hanya melayani perkembangbiakan populasi melainkan juga hubungan monogami sesama patner.

regressif namun juga berlawanan dengan sifat manusiawi manusia. Namun, hubungan seksual ditempatkan bersama-sama dengan keintiman seksual, dan yang terakhir bahkan diyakini menjadi jawaban bagi penyakit-penyakit di zaman kita. Menurut saya, apa yang dibutuhkan pada zaman kita yang mengalami ledakan penduduk adalah privasi eksistensial dari pada keintiman seksual.

Berbicara tentang ledakan penduduk, saya akan membicarakan pil KB. Bukan hanya penangkalan ledakan penduduk, namun, seperti yang saya lihat, untuk memberikan pelayanan yang lebih mulia. Jika benar bahwa cinta yang membuat seks menjadi manusiawi, pil KB memungkinkan kehidupan seksual yang sejati. Seseorang yang dibebaskan dari hubungan otomatis prokreasi, seks dapat merealisasikan potensi tertingginya sebagai salah satu dari ekspresi paling bermakna dan langsung dari cinta. Seks menjadi manusiawi jika ia dialami sebagai kendaraan bagi cinta dan membuatnya sekadar bermakna akan berakhir dengan kontradiksi dengan kemanusiaan seks, tanpa penghargaan terhadap apakah prinsip kenikmatan menjadi akhir dari insting prokreasi. Yang terakhir, seks telah dibebaskan berkat pil KB, dan dengan demikian menjadi mampu untuk meraih potensinya sebagai fenomena manusia.

Posted in FILOSOFI, PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan