MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-37

Di satu sisi, kehendak terhadap makna bukan hanya sebagai perwujudan kemanusiaan manusia, tetapi juga —seperti yang disebutkan oleh Theodore A. Kotchen — adalah kriteria yang layak bagi kesehatan mental. Hipotesis ini didukung oleh James C. Crumbaugh, Sister Mary Raphael, dan Raymond R Sharader, yang mengukur kehendak terhadap makna dan menambahkan skor tertinggi di antara populasi bisnis dan profesional yang sukses dan termotivasi.

Di sisi lain, kurangnya makna dan tujuan mengindikasikan ketidakmampuan emosional. Sejak Freud dan Adler menangani pasien-pasien neurosis—yakni, orang-orang yang frustrasi dalam kehendak terhadap makna— dapat dipahami bila mereka berpikir bahwa orang-orang itu didorong oleh prinsip kenikmatan dan kehendak terhadap superioritas secara bertanggung jawab. Nyatanya, kehendak terhadap kekuasaan dan kehendak terhadap kenikmatan adalah substitusi bagi frustrasi kehendak terhadap makna. Bukti tentang pergantian kehendak terhadap kenikmatan telah ditawarkan melalui riset statistik. Orang-orang yang mengunjungi Prater Wina— taman rekreasi yang sebanding dengan New York Coney Island—terbukti lebih mengalami frustrasi kehendak terhadap makna dibandingkan rata-rata penduduk Wina.

Normalnya, manusia pertama kali tidak mencari kenikmatan;memang kenikmatan—atau untuk alasan itu, kebahagiaan—adalah efek samping dari menghidupi transendensi diri eksistensi. Ketika seseorang melayani penyebab, atau terlibat dalam mencintai keberadaan makhluk lain, kebahagiaan akan hadir dengan sendirinya.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan