MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-36

Dalam konteks ini, saya selalu mengingat pelajaran dari instruktur penerbangan saya. Apabila ada pusaran angin, katakanlah dari Utara, sementara saya ingin mendarat di landasan yang ada di Timur, jika saya terbang ke arah Timur maka saya akan kehilangan tujuan sebab pesawat akan bergeser ke arah Tenggara. Untuk menyikapi pergeseran ini, saya harus menerbangkan pesawat saya ke arah Utara dari tujuan saya, dan ini disebut crabbing. Bukankah hal yang sama terjadi pada manusia? Bukankah ia juga akan berakhir pada tingkat titik yang lebih rendah dari pada tujuannya semula kecuali ia tampak pada level aspirasi yang lebih tinggi? Apa yang disebutkan oleh instruktur penerbangan saya? Jika saya terbang ke arah Timur pada kondisi pusaran angin yang demikian, saya akan mendarat di Tenggara. Agar saya mendarat tepat di Timur, saya mesti terbang ke arah Timur Laut. Baiklah, jika saya memperlakukan manusia sebagaimana adanya, saya akan membuatnya lebih buruk; jika saya memperlakukannya sebagaimana ia seharusnya, saya membuatnya menjadi apa yang seharusnya. Namun, hal terakhir ini bukanlah instruksi dari instruktur penerbangan saya, melainkan kutipan dari Goethe.

Jika konsep kehendak terhadap makna adalah idealistik sepenuhnya, saya menyebut idealisme yang demikian sebagai realisme real. Jika kita membawa potensi manuseia ke tingkat tertinggi, pertama kita harus mempercayainya dalam eksistensi dan kehadirannya. Jika tidak, manusia akan bergeser dan memburuk. Manusia memiliki potensi menjadi baik juga menjadi buruk. Terlepas dari kepercayaan kita terhadap potensi kemanusiaan manusia, kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta sifat manusiawi manusia dan mungkin selalu sebagai minoritas. Namun, persis pada titik ini, kita ditantang untuk bergabung dengan minoritas. Segala sesuatu adalah buruk. Kecuali kita melakukan yang terbaik dari diri kita untuk memperbaikinya, semuanya akan menjadi lebih buruk.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan