MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-33

Pertimbangkanlah sebuah mata! Mata juga adalah transendensi diri dalam satu hal. Ketika ia mempersepsi sesuatu tentang dirinya sendiri, fungsinya untuk mempersepsi dunia visual sekitarnya menjadi memburuk. Ketika ia menderita katarak, ia akan menganggap bahwa katarak itu sendiri sebagai awan. Ketika ia menderita glaukoma, ia akan mempersepsi cahaya sebagai pelangi. Mata tidak melihat apa pun dari dirinya sendiri. Dengan cara yang sama, oleh realitas keutamaan kualitas transendensi diri, sifat manusiawi manusia tampak paling nyata ketika ia melupakan dirinya sendiri—dan memandang dirinya sendiri,

Konsep itu, yang menempati posisi sentral dalam teori motivasi logoterapi, menunjukkan fakta mendasar bahwa normalnya, atau dalam kasus neurotik, manusia pada awalnya memiliki hasrat untuk mencari dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya. Konsep kehendak terhadap makna ini dikuatkan dan divalidasi oleh beberapa penulis, yang mendasarkan penelitian mereka pada uji statistik. Purpose-in-Life-Test (PIL)  dari James C. Crumbaugh dan Leonard T. Maholick serta Logo-Test dari Elisabeth S, Lucas diberikan kepada ribuan responden, dan setelah data dikomputerisasi, data itu membuktikan bahwa kehendak terhadap makna lebih dari yang diperkirakan oleh banyak idealis.

Penelitian yang dilakukan oleh S. Kratochvil dan I. Planova dari Departemen Psikologi University of Brno Chekoslovakia menawarkan bukti bahwa adalah kebutuhan yang sangat khusus yang tidak tereduksi oleh kebutuhan lainnya dalam kadar yang lebih besar atau lebih kecil hadir dalam keberadaan manusia. Penulis melanjutkan bahwa relevansi frsutasi terhadap makna terdapat pada pasien neurosis dan depresi. Dalam beberapa kasus, frustasi kehendak terhadap makna mempunyai peran yang relevan seperti faktor etiologis dalam neurosis atau dalam upaya bunuh diri. Abraham Maslow bergerak lebih jauh. Baginya, kehendak terhadap makna merupakan perhatian utama manusia.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan