MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-30

Membicarakan martabat—apakah ia martabat seseorang atau ilmu pengetahuan—kita dapat mendefinisikan sebagai nilai sesuatu dalam dirinya sendiri, yang berlawanan dengan nilai ‘bagi saya‘. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa siapa pun yang membuat psikoterapi menjadi ancilla theologia, pelayan bagi teologi, tidak hanya  merampok martabat pengetahuan yang otonom, namun juga mengabaikan nilai potensial yang mungkin didapat untuk agama, sebab psikoterapi bermanfaat dalam agama hanya dalam hal hasil yang diperoleh, atau efek samping, dan tidak pernah disadari manfaatnya dari awal. Jika psikoterapi melayani agama—baik melalui  hasil maupun efek terapi perawatan—psikoterapi harus menahan diri dari setting tujuan prakonsepsi sepanjang garis agama. Hanya hasil yang diperoleh oleh penelitian independen yang tidak dipengaruhi oleh asumsi dari agama, yang berguna dan bermanfaat bagi teologi. Dan jika psikoterapi pernah menawarkan bukti bahwa jiwa manusia adalah apa yang kita pikirkan yang disebut anima naturaliter religiosa (agama alami) beberapa bukti hanya dapat ditawarkan oleh psikoterapi sebagai scientia naturaliter religiosa—yakni psikoterapi yang pada hakikatnya tidak pernah berorientasi religius.

Semakin sedikit psikoterapi menghamba pada teologi, semakin besar layanan yang akan diberikan. Seseorang harus tidak menjadi pelayan agar bisa melayani…

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan