MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-3

BAWAH SADAR SPRITUAL
Kita sekarang sampai pada revisi penting dari konsep umum dari ketidaksadaran, atau lebih khusus, keluasannya. Kita harus memperluas batas-batasnya karena ternyata bahwa tidak hanya ada bawah sadar naluriah tetapi juga bawah sadar spiritual artinya isi bawah sadar dibedakan menjadi bawah sadar naluriah dan bawah sadar spiritual.
Sebelumnya kita telah mencoba melengkapi psikoterapi dalam arti kata yang ketat dengan memperkenalkan logoterapi sebagai psikoterapi yang berpusat dan fokus pada spiritual yang merupakan dimensi noological berbeda dari dimensi psikologis. Setelah memasukkan spiritual ke dalam psikologi secara umum, kita sekarang memasukkannya secara khusus ke psikologi dalam —yakni psikologi bawah sadar.
Freud melihat hanya bawah sadar naluriah, yang diwakili oleh apa yang disebut id. Baginya bawah sadar itu pertama dan terutama sebagai reservoir tekanan naluriah. Namun, spiritual juga mungkin dalam bawah sadar. Selain itu, eksistensi pada dasarnya adalah bawah sadar, sebab dasar dari eksistensi tidak dapat tercermin sepenuhnya dan dengan demikian tidak dapat sepenuhnya sadar akan dirinya sendiri.
Karena naluri dan spiritual keduanya adalah bawah sadar, dan spiritual mungkin sadar seperti bawah sadar, kita sekarang harus bertanya pada diri sendiri seberapa tajam perbedaan keduanya. Batas antara sadar dan bawah sadar sangat cair- permeabel-sebab ada transisi konstan dari satu ke yang lain. Kita hanya perlu mempertimbangkan apa yang psikoanalisis sebut sebagai represi: Dalam tindakan represi sesuatu yang sadar menjadi bawah sadar; sebaliknya, dalam penghapusan represi sesuatu bawah sadar kembali menjadi sadar.
Berbeda dengan batas “cair” antara sadar dan bawah sadar, garis antara spiritual dan naluri tidak dapat ditarik cukup tajam. Fakta ini telah dinyatakan paling singkat oleh Ludwig Binswanger ketika ia berbicara tentang  naluri dan spirit sebagai “konsep terbandingkan.” Karena eksistensi manusia adalah keberadaan spiritual, kita sekarang melihat bahwa perbedaan antara sadar dan bawah sadar menjadi tidak penting dibandingkan dengan perbedaan lain: Kriteria nyata dari eksistensi otentik manusia berasal dari penelusuran apakah fenomena tertentu adalah spiritual atau naluri, sementara relatif tidak relevan apakah itu sadar atau bawah sadar. Hal ini disebabkan fakta bahwa-kontras dengan konsep keberadaan psikoanalisis-bahwa manusia bukan dorongan tapi “memutuskan apa yang akan menjadi,” . Mengutip Jaspers (entscheidendes Sein), atau mengutip Heidegger: Dasein. Saya akan mengatakan bahwa menjadi manusia yang bertanggung jawab- tanggung jawab eksistensial adalah bertanggung jawab terhadap eksistensi dirinya sendiri.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan