MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-29

Meskipun agama dapat memberikan dampak positif pada pasien, tujuan itu sendiri tidak terdapat dalam psikoterapi. Meskipun agama dapat memberikan dukungan sekunder seperti kesehatan mentaldan keseimbangan batin, tujuan itu tidak merupakan prioritas bagi psikologi, melainkan keselamatan spritual. Agama bukanlah sebuah polis asuransi bagi hidup yang tenang, bagi kebebasan maksimal dari konflik, atau untuk tujuan higienis lainnya.Agama memberikan kepada manusia lebih dari pada yang dapat diberikan oleh psikoterapi—namun hal itu juga tergantung pada orangnya. Beberapa pengganbungan tujuan respektif agama dengan psikoterapi menghasilkan kebingungan. Fakta menunjukkan bahwa keduanya berbeda, bahkan keduanya sering tumpang tindih. Dengan alasan yang sama, upaya-upaya untuk menggabungkan tugas-tugas medis dengan pastoral ditolak. Beberapa penulis mengusulkan bahwa psikoterapi melepaskan otonominya sebagai sains dan independensinya dari agama seperti melihat fungsinya sebagai ancilla theologiae. Seperti yang dikenal dari filsafat, yang menjadikan peran ancilla theologiae, yakni menjadi hamba yang melayani teologi.

Namun, karena martabat manusia didasarkan pada kebebasannya—pada perluasan bahwa dia bisa mengatakan tidak bahkan kepada Tuhan—, maka martabat pengetahuan didasarkan pada kebebasan tanpa syarat, yang menjamin independensinya dalam pencarian kebenaran. Seperti kebebasan manusia yang meliputi kebebasan untuk mengatakan tidak, maka kebebasan penyelidikan pengetahuan mestinya melampaui risiko bahwa hasilnya mungkin berlawanan dengan keyakinan agama dan kepercayaan.Hanya ilmuwan yang bersedia bertarung secara militan untuk otonominya akan meraih kemenangan dan melihat bagaimana hasil penelitiannya kadang-kadang sesuai, tanpa kontradiksi, dalam kebenaran yang dipercayainya.

 

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan