MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-28

Kita biasanya mengatakan bahwa logoterapi tidak bertujuan untuk menggantikan psikoterapi melainkan melengkapinya. Demikian juga kita mengatakan bahwa tugas-tugas medis tidak menggantikan tugas-tugas pastoral. Hal itu tidak berarti melenyapkan—bila memungkinkan seorang psikiater bisa mengambil alih tugas-tugas pastoral. Kasus berikut ini merupakan contoh bagaimana hal itu bisa terjadi:

Seorang wanita tua datang ke psikiater untuk berkonsultasi tentang depresi akut yang dideritanya. Dia tidak memiliki keluarga sejak anak perempuannya yang merupakan anak tunggalnya, meninggal karena bunuh diri. Setelah ditunjukkan bahwa rasa dukanya bukan patologi melainkan rasa duka yang normal, sang psikiater dengan hati-hati menanyakan perasaan religiusnya. Karena pasien menyatakan bahwa sebelumnya ia religius, psikiater bertanya mengapa pasien tidak meminta bantuan dari pendeta. Pasien menceritakan bahwa ia sudah menemui pendeta namun pendeta tidak mau meluangkan sedikit waktu untuknya. Psikiater itu sendiri adalah orang religius yang dengan murah hati memberikan penghiburan kepada pasien—penghiburan berdasarkan kesamaan iman mereka di mana pendeta tidak bersedia memberikannya. Situasi memang membutuhkan psikiater untuk memberikan kenyamanan religius pada pasiennya. Hal itu bukan hanya hak asasi psikiater bahkan merupakan tugas agamanya, sebab dalam hal ini seorang religius dihadapkan dengan sesamanya. Apa yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa seorang psikiater tidak berhak menggunakan religiusitas atas nama psikoterapi melainkan atas nama religiusitas. Dengan demikian, hanya seorang psikiater yang religius yang dibenarkan melakukan pendekatan demikian. Psikiater yang tidak religius tidak berhak memanipulasi keyakinan pasien dan menggunakannya sebagai alat seperti pil dan jarum suntik. Hal itu akan merendahkan religiusitas dan menurunkannya hanya sekadar alat untuk kesehatan mental.

Posted in PHILOSOPHY TODAY, tiologi KARAKTER and tagged , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan