MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-26

BAB VII

PSIKOTERAPI DAN TEOLOGI

Kita mungkin bertanya, persoalan apa yang muncul pada penelitian dan praktik psikoterapi. Ternyata, persoalan profesi medis bukanlah masalah teologis. Ketika beberapa persoalan didiskusikan, psikiater terikat pada toleransi tanpa syarat. Paling tidak, semua psikiater yang religius, bebas dari kewajiban ini. Dia hanya akan tertarik pada terobosan spontan religius sebagian pasien.Dan dia akan sabar menunggu terobosan spontan terjadi. Hal ini tidak begitu sulit baginya, sebab sebagai seorang religius, ia diyakinkan bahwa meskipun seseorang nyata-nyata tidak religious, masih ada  religiusitas laten. Lagi pula, psikiater yang religius percaya tidak hanya pada Tuhan, namun juga pada keyakinan bawah sadar sebagian pasien. Dengan kata lain ia percaya, ia percaya bahwa “Tuhan”-nya pasien adalah bawah sadar Tuhan. Pada saat yang sama, ia percaya bahwa bawah sadar Tuhan adalah sesuatu yang belum menjadi sadar pada pasien.

Kita telah mengatakan bahwa agama yang murni adalah ketika ia eksistensial, ketika  seseorang tidak diarahkan padanya, tetapi sebagai komitmen dirinya sendiri dengan pilihan bebas untuk menjadi religius. Sekarang kita lihat bahwa eksistensialitas religiusitas selaras dengan spontanitasnya. Religiusitas yang murni akan terungkap pada waktunya. Tidak seorang pun dapat memaksanya. Kita dapat mengatakan bahwa religiusitas murni manusia tidak dapat diarahkan oleh suatu insting—juga didorong oleh psikiater.

Menurut Freud, proses di mana material bawah sadar menjadi sadar hanya memiliki efek psikoterapis bila proses itu berjalan spontan. Bekerjanya material yang direpresi didasarkan pada sifat terobosan spontannya, dan saya pikir, sesuatu yang analog juga terjadi pada religiusitas yang direpresi. Di sini, mengerahkan tekanan pada program yang ditentukan sebelumnya akan menghancurkan diri sendiri; dalam kasus ini, kesadaran akan menggagalkan efek. Ini adalah suatu fakta yang bahkan agamawan pun cukup menyadarinya. Bahkan, agamawan akan menekankan pada spontanitas penuh religiusitas yang benar; terlebih seorang psikiater. Sebagai contoh, seorang pendeta menceritakan bahwa ia pernah diundang seseorang yang sudah mendekati ajal, yang ia tahu tidak religius.  Orang itu merasa harus berbicara tentang sesuatu kepada seseorang sebelum ia meninggal, dan untuk tujuan itu ia memilih pendeta itu. Pendeta itu mengatakan kepada saya bahwa ia menahan diri untuk tidak menawarkan ritual terakhir dengan alasan bahwa mereka tidak memintanya secara spontan. Demikianlah penekanannya pada spontanitas.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan