MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-24

Berhadapan dengan kelimpahan kelebihan atau kekurangan rujukan religius pada catatan pasien, kami menanyakan pasien bagaimana sikapnya terhadap agama. Terhadap pertanyaan itu, ia terkejut dan mengakui bahwa ia sepenuhnya “pemikir bebas”. Ia mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai pengikut Haeckhel (seorang ilmuwan Biologi dengan orientasi materialisme terkenal pada saat itu).

Dengan rasa bangga yang jelas ia menghubungkan dengan pemahamannya yang sangat luas tentang fisika modern  hingga tingkat lanjut. Sebagai contoh, ia telah menguasai teori elektron secara lengkap. Terhadap pertanyaan tentang apakah ia tahu sesuatu mengenai hal religius, ia mengakui bahwa ia memang mengetahui kitab suci, namun hanya sebagai seorang kriminal mengetahui kitab hukum pidana. Ini berarti, ia menyadarinya namun ia tidak peduli tentang hal itu. Ketika ditanya, apakah dengan demikian ia tidak religius,  ia menjawab, “Siapa yang dapat menilai dirinya sendiri? Sesungguhnya, saya tidak religius secara intelektual, namun secara emosional saya masih percaya.Secara intelektual, saya hanya percaya hukum-hukum alam—tidak pada sesuatu seperti Tuhan yang memberi ganjaran dan menghukum.” Dan perhatikan, bahwa individu yang sama yang baru saja mengucapkan kata-kata ini ketika ditanya tentang impotensi yang dideritanya, ia mengatakan, “Pada saat itu saya dihantui oleh ide obsesif bahwa Tuhan akan balas dendam kepada saya.”

Freud, dalam The Future of Illusion mengatakan, “Agama adalah kompulsif neurosis universal umat manusia’ seperti anak-anak’ yang diturunkan dari Oedipal kompleks, dari relasi terhadap ayah.” Dalam kasus yang diceritakan di atas, kita tergoda untuk membalikkan pernyataan Freud dan berani mengatakan bahwa kompulsif neurosis adalah penyakit keagamaan. Faktanya, bukti klinis menunjukkan bahwa atrofi perasaan religius pada manusia dihasilkan dalam distorsi konsep religiusnya. Untuk menyatakannya dalam bahasa yang tidak bersifat klinis, saat malaikat dalam diri kita ditekan, ia berubah menjadi iblis.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan