MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-22

Ini tidak menyangkal bahwa semua religiusitas selalu berlangsung pada jalur tertentu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Namun hal itu bukan bawaan (warisan arketipe) melainkan cetakan budaya yang ke dalamnya religiusitas pribadi dituangkan. Cetakan ini tidak diwariskan secara biologis, tetapi diturunkan melalui dunia simbol tradisional adat dan budaya tertentu. Dunia simbol ini bukan bawaan dalam diri individu, tetapi individu dilahirkan ke dalamnya.

Jadi, ada bentuk-bentuk religius yang akan diasimilasikan oleh individu secara eksistensial, harus dibentuk sendiri. Namun, apa yang membuat tujuan itu bukanlah arketipe, melainkan tradisi nenek moyang kita, ritus agama, wahyu, dan teladan yang dilakukan oleh orang-orang kudus. Budaya menawarkan cetakan tradisional yang cukup untuk bagi manusia untuk diisi dengan religiusitas.

Dengan demikian, keutamaan religiusitas tidak seharusnya diidentifikasi melalui religiusitas primitif. Adalah benar bahwa religiusitas utama yang telah jatuh menjadi sasaran represi muncul ke permukaan dalam bentuk keluguan iman seorang anak-anak. Namun, tidak ada yang mesti diharapkan sebab religiusitas mestinya diassosiasikan dengan  pertumbuhan pengalaman material selama anak-anak. Faktanya, ketika analisis eksistensial menggali materi ini dan melepaskannya dari represi kita akan menemukan iman yang memang kekanak-kanakan dalam arti yang sejati. Tidak masalah seberapa kekanak-kanakan dan lugunya, namun hal itu tidak primitif dan kuno seperti yang disebutkan Jung. Bila seseorang memulai dengan analisis yang tidak bias, dia tidak akan berhadapan dengan unsur mitologi kuno, melainkan dengan pengalaman religious yang terpatri dalam dalam memori masa kanak-kanak.

Posted in PHILOSOPHY TODAY, tiologi KARAKTER and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan