MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-20

Potensi salah tafsir ketiga dan yang paling penting: tidak dapat ditekankan dengan cukup kuat bahwa tidak hanya bawah sadar juga keilahian atau kemahatahuan, tapi di atas semua hubungan bawah sadar manusia dengan Tuhan adalah pribadi yang suci. “Tuhan bawah sadar” tidak harus dikelirukan sebagai kekuatan impersonal dalam manusia. Kesalahpahaman ini adalah kesalahan besar yang dibuat oleh C. G. Jung. Jung harus dihormati dengan menemukan elemen religiusitas dalam alam bawah sadar. Namun ia salah menempatkan religiusitas bawah sadar manusia, gagal menempatkan Tuhan  bawah sadar di wilayah pribadi dan eksistensial. Sebaliknya, ia menempatkannya ke daerah dorongan dan naluri, di mana religiusitas bawah sadar tidak lagi soal pilihan dan keputusan. Menurut Jung, sesuatu dalam diri saya adalah religius, tetapi bukan saya yang kemudian religius; sesuatu dalam diri saya mendorong saya untuk Tuhan, tetapi bukan saya yang membuat pilihan dan mengambil tanggung jawab.
Menurut Jung, religiusitas bawah sadar terikat dengan arketipe religius milik bawah sadar kolektif. Baginya, religiusitas bawah sadar memiliki hubungan yang jauh dengan keputusan pribadi, tapi menjadi impersonal esensial, kolektif, “khas” (Le., Archetypical) proses yang terjadi pada manusia. Anggapan bahwa religiusitas bisa muncul dari bawah sadar kolektif, justru karena religiusitas melibatkan keputusan paling  personal yang dibuat seseorang, bahkan jika hanya pada tingkat bawah sadar. Namun, tidak ada kemungkinan menempatkan keputusan tersebut untuk beberapa proses sekadar mengambil tempat dalam diriku.
Bagi Jung dan Jungian, religiusitas bawah sadar selalu tetap sesuatu yang lebih kurang bersifat insting. H. Banziger, dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 1947 dalam Schweizerische Zeitschrift für Psychologie bahkan terus terang menyatakan: “Kita mungkin berbicara tentang dorongan religius seperti kita berbicara tentang dorongan seksual dan agresif”. Tapi religiusitas jenis apakah itu-religiusitas di mana saya didorong, didorong seperti saya didorong untuk seks? Sementara saya sendiri, saya tidak akan peduli terhadap religiusitas yang merendahlan seperti “dorongan religius.” Religiusitas asli bukanlah karakter keterdorongan melainkan keputusan. Memang, religiusitas tumbuh dengan keputusan-dan jatuh dengan dorongan. Religiusitas adalah eksistensial atau tidak sama sekali.

 

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan