MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-19

Frase “Tuhan bawah sadar” dapat disalahtafsirkan dalam tiga cara. Pertama, penafsiran yang mengarah panteistik. Tafsiran ini menjadi kesalahpahaman sempurna jika menganggap bahwa alam bawah sadar sendiri ilahi. Alam bawah sadar hanya berhubungan dengan yang ilahi. Orang yang memiliki relasi bawah sadar dengan Tuhan  sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan ada “dalam dirinya,”—bahwa ia “mendiami” bawah sadar kita—semua ini hanyalah gagasan dilettantisme teologis.
Potensi tafsir yang keliru lainnya tentang konsep Tuhan bawah sadar adalah memahaminya dalam arti okultisme. Paradoks “pengetahuan bawah sadar” Tuhan akan keliru jika ditafsirkan bahwa alam bawah sadar adalah maha tahu, atau bahkan lebih tahu dari diri yang sadar. Bawah sadar tidak hanya tidak ilahi, tetapi lebih jauh lagi, ia tidak memiliki atribut ilahi, dan dengan demikian tidak memiliki kemahatahuan ilahi juga. Salah tafsir pertama harus ditolak sebagai dilettantisme teologis, dan yang kedua sebagai metafisika instan.
Tidak ada pengetahuan yang dapat mengetahui sendiri, untuk menilai sendiri, tanpa naik di atas itu sendiri. Dalam nada yang sama, tidak ada ilmu yang dapat menimbang hasil sendiri dan menyadari implikasinya tanpa melampaui lingkup hakiki sendiri dan menundukkan diri pada pengawasan ontologis. Itulah alasan yang memaksa kita untuk melampaui batas-batas ilmu yang ketat untuk melihat bagaimana hasil dari fenomenologis dan dalam pengertian empiris, penyelidikan dicocokkan dengan harapan ontologis. Ini membuat, bahkan lebih penting menjaga wilayah data empiris dan klinis agar jangan sampai jatuh ke dalam dilettantisme teologis dan metafisika instan. Tugas kita adalah memulai dengan fakta—fakta pengalaman sederhana dan mengevaluasinya sepanjang garis metodologi tradisional—misalnya dengan menerapkan metode klasik asosiasi bebas dalam analisis mimpi. Yang pasti, sementara kita melakukannya, pada saat yang sama, kita menghargai fakta fenomenologis. Fakta-fakta ini, juga, “faktual,” dan akan demikian sejauh tidak dimungkinkan setiap reduksi analisis lebih lanjut. Pertimbangkan mimpi terang-terangan religius dari apa yang diketahui dari pasien yang tak religius. Apa yang paling mencolok dalam mimpi tersebut adalah sebuah pengalaman gembira kebahagiaan yang tidak dialami pasien dalam kehidupan nyata. Adalah tidak mungkin bersikeras bahwa di balik pengalaman seperti itu harus ada makna seksual —kecuali kita memilih untuk melanggar kejujuran intelektual dengan menekan fenomena ke dalam tempat tidur Procrustean—tidak untuk mengatakan sofa Procrustean—pola yang terbentuk sebelum penafsiran.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan