MAN’S SEARCH FOR ULTIMATE MEANING-10

ANALISIS EKSISTENSIAL MIMPI
Dari apa yang telah dibahas, tampaknya mengikuti bahwa bawah sadar spiritual akan sangat sulit untuk dijelaskan. Namun ada cara di mana bawah sadar—termasuk aspek spiritual— dieksplorasi, yaitu, melalui mimpi. Sejak Freud memperkenalkan metode klasik penafsiran mimpi, berdasarkan asosiasi bebas, kita telah belajar memanfaatkan teknik ini. Hal ini juga dilakukan dalam analisis eksistensial, meskipun tujuan kita adalah untuk mengangkat bukan hanya insting tetapi juga fenomena spiritual ke dalam kesadaran—dan ke dalam tanggung jawab. Bagaimanapun juga, mimpi adalah ciptaan sejati bawah sadar, dan karena itu kita dapat berharap bahwa tidak hanya unsur bawah sadar insting yang akan mengemuka, tetapi unsur juga bawah sadar spiritual. Jadi kita menggunakan metode yang Freud lakukan ketika ia melacak bawah sadar insting, tapi kita dapat menggunakan metode untuk akhir yang berbeda, pengungkapan bawah sadar spiritual.
Nurani telah terbukti menjadi model yang sesuai untuk menunjukkan bagaimana bawah sadar spiritual beroperasi. Model yang sama sekarang dapat kita gunakan dalam konteks analisis mimpi. Sebagai contoh: Seorang wanita bermimpi, bersama pakaiannya yang kotor, dia membawa kucing kotor ke laundry. Ketika ia mengambil cucian, ia menemukan bahwa kucing itu telah mati. Asosiasi bebasnya sebagai berikut: “kucing,” menurutnya adalah hewan yang paling ia sukai, di atas segalanya; sama seperti dia mencintai putrinya “di atas segalanya.” Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa “kucing” adalah simbol bagi “putrinya.” Mengapa kucing “kotor”? Hal itu menjadi jelas setelah kami pelajari dari pasien bahwa baru-baru ini dia khawatir tentang gosip seputar kehidupan cinta putrinya seperti “pakaian kotor,” dan sedang dicuci di depan umum. Itulah alasan mengapa pasien, seperti diakuinya, terus-menerus khawatir dan mengawasi putrinya. Mimpi itu merupakan peringatan kepada pasien untuk tidak menyiksa putrinya dengan tuntutan berlebihan tentang moral “kebersihan” atau dia akan kehilangan anaknya.
Kita tidak bisa melihat alasan mengapa kita mesti menyerah pada interpretasi terang-terangan seperti itu, terbuka untuk apa pun yang menampilkan dirinya dalam mimpi, dalam rasa hormat pada ide yang terbentuk sebelumnya bahwa konten seksual infantile itu mestinya disembunyikan. Fenomena alam bawah sadar spiritual adalah fakta empiris, dan dihadapkan dengannya, kami ingin merangkul kebajikan besar psikoanalisis: objektivitas. Objektivitas seperti itu harus dituntut tidak hanya dari analysand tetapi juga analis. Sama seperti tanpa syarat kejujuran diperlukan dari analysand, analis harus sama-sama jujur dan tidak menutup matanya dengan fakta-fakta dari bawah sadar spiritual.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan